Oleh: kareumbi | 7 April 2009

TBMK: Risalah Umum Kawasan (1995)

Ditulis ulang dari Laporan Identifikasi Permasalahan Pengelolaan Kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi Jawa Barat. Dokumen Publikasi BKSDA III Wilayah Jawa Barat. Tahun 1995.
Dokumen selengkapnya dapat diperoleh di Kantor Manajemen Pengelola Kawasan Konservasi Masigit Kareumbi.

A. Status dan Sejarah Pengelolaan

Komplek hutan Gunung Masigit-Kareumbi seluas 12.420,70 Ha semula dikelola oleh Dinas Kehutanan Daerah Tingkat I Jawa Barat. Selanjutnya terhitung mulai tahun 1976 ditetapkan sebagai Hutan Wisata dengan fungsi Taman Buru melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 297/Kpts/Um/5/1976 tanggal 15 Mei 1976.

Pada tahun 1980 dilakukan penataan batas luar oleh Direktorat Jenderal INTAG Departemen Kehutanan sepanjang 120 Km dan dipancang 2143 buah pal batas, dengan Berita Acara Tata Batas Beserta Peta lampirannya telah disyahkan oleh Menteri Kehutanan pada tanggal 2 Pebruari 1982.

Pada tanggal 27 Pebruari tahun 1988 dilaksanakan serah terima wewenang dan tanggungjawab pengelolaan kawasan hutan TB. Gunung Masigit-Kareumbi dari Direksi Perum Perhutani kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, yang disaksikan oleh Menteri Kehutanan di Bali, dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Perum Perhutani masih dapat mengelola hutan tanaman pinus pada areal Taman Buru Gunung Masigit-Kareumbi yang dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan petunjuk yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan/ Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam.
  2. Perum Perhutani akan membantu pembinaan, pengamanan serta pengadaan sarana fisik dalam rangka pembangunan Taman Buru Masigit-Kareumbi.

Pada tahun 1966 atas prakarsa Bapak Letjen. (Purn.) Ibrahim Adjie, telah dikembangbiakan jenis rusa sambar (Cervus unicolor), semula diintroduksikan sebanyak 25 ekor pada lahan berpagar seluas 4 Ha, setahun kemudian pagar dibuka dan rusa dilepas ke dalam hutan.

B. Letak dan Luas

Secara geografis kawasan TB. Gunung Masigit-Kareumbi terletak antara 6° 51′ 31” sampai 7° 00′ 12” Lintang Selatan dan 107° 50′ 30″” sampai 108° 1′ 30” Bujur Timur. Secara administrasi pemerintahan terletak di wilayah Kabupaten Dati II Bandung, Garut dan Sumedang, sedangkan menurut administrasi pengelolaannya dibawah Sub Seksi KSDA Sumedang, Sub Balai KSDA Jabar I, Balai KSDA III.

Menurut SK. Menteri Pertanian Nomor 297/Kpts/Um/5/1976 luas kawasan TB. Gunung Masigit-Kareumbi adalah 12.420,70 Ha. Kemudian ditambah dengan lahan kompensasi sebagai pengganti kawasan Cagar Alam Kamojang yang dipergunakan untuk Bendungan PLTP oleh PLN Pikittermal Jabar Jaya, yang terletak berhimpitan dengan TB. Gunung Masigit-Kareumbi di Desa Nagrog Kecamatan Cicalengka seluas 22,4 Ha. Dengan demikian maka luas kawasan TB. Gunung Masigit-Kareumbi menjadi 12.443,1 Ha.

C. Kondisi Fisik

  1. Iklim
    Sebagian besar dari areal TB. Gunung Masigit-Kareumbi termasuk dalam tipe hujan C dengan curah hujan rata-rata pertahun 1900 mm, kecuali di bagian barat laut bertipe hujan B. Temperatur rata-rata adalah 23°C, sedangkan kelembaban udara rata-rata 80%
  2. Topografi
    Topografi lapangan umumnya berbukit-bukit dan bergunung dengan puncaknya yang tertinggi Gn. Kerenceng (1736 mdpl). Kemiringan lereng dibagian tengah kawasan diatas 30%, sedangkan dibagian tepi kelerengan bervariasi antara 20% sampai 30%.
  3. Hidrologi
    Dibeberapa tempat dijumpai genangan-genangan air menyerupai rawa dan ditumbuhi rumput-rumputan sebanyak 7 buah yang tersebar di blok Cimurat (2 buah), blok Cigumentong (3 buah), Cigorewal (1 buah) dan di blok Cigoler (1 buah). Genangan tersebut merupakan tempat mencari makan dan berkubang rusa sambar dan satwa lainnya.

    Beberapa sungai yang mengalir di dalam kawasan antara lain Sungai Cigurung, S. Cikantap, S. Cimanggung, S. Cihanjawan, S. Citarik, S. Cideres, S. Cileunca, S. Cianten, S. Cikayap, S. Cibayawah, S. Cibangban, S. Ciserak, S. Cimacan dan S. Cimulu.

  4. Tanah dan Geologi
    Di kawasan TB. Gunung Masigit-Kareumbi terdapat dua jenis tanah yaitu: (a) Asosiasi latosol coklat kemerahan dan latosol coklta dengan bahan induk tuf vulkan intermedier, fisiografi vulkan di jumpai di bagian utara, Timur dan Selatan kawasan, sertab (b) Asosiasi andosol coklat dan regosol dengan bahan induk abu pasir dan tuf vulkan intermedier, fisiografi vulkan yang menetapi kawasan sebelah Barat, Tengah dan Selatan. Umumnya jenis tanah ini bertekstur liat walaupun di beberapa tempat bertekstur debu dan pasir halus, sedangkan warna tanah bervariasi mulai dari coklat, coklat tua sampai hitam.

D. Keadaan Biologi

  1. Vegetasi
    Enam puluh persen dari luas seluruh kawasan TB. Gunung Masigit-Kareumbi merupakan hutan alam, sedangkan sisanya (40%) merupakan hutan tanaman. Hutan alam yang ada merupakan tipe hutan hujan pegunungan bawah (submontane forest), sedangkan hutan tanaman yang ada adalah hutan tanaman pinus (Pinus merkusii) dan sebagian kecil hutan tanaman rasamala (Altingia excelsa).

    Jenis-jenis pohon yang terdapat di hutan alam adalah sebagai berikut : Pasang (Quercus sp.), saninten (Castanopis argentea), puspa (Schiima wallicchii), rasamala (Altingea excelsa) dan Jamuju (Podocarpus imbricatus), dan beberapa tumbuhan bawah seperti : tepus (Achasma megalocheiles), cangkuan (Pandanus punctatus), kirinyuh (Eupathorium inulifolium), saliara (Lantana camara) dan rumput-rumputan seperti : Alang-alang (Imperata cylindrica), jampang piit (Panicum colonum) dan jukut pait (Axonopus compressus).

  2. Fauna
    Disamping rusa sambar yang merupakan hasil pembiakan sejak tahun 1966, jenis satwa liar yang terdapat di kawasan TB. Gunung Masigit-Kareumbi antara lain : Kera (Macaca fascicularis), babi hutan (Sus vittatus), anjing hutan (Cuon javanicus), macan tutul (Panthera pardus), kucing hutan (Felis bengalensis), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus javanicus), musang (Paradoxurus hermaphroditus), linsang (Prionodon linsang), jelarang (Ratufa bicolor), ayam hutan (Gallus varius).

E. Keadaan Sosial Ekonomi

  1. Keadaan Penduduk
    Kawasan TB. Gunung Masigit-Kareumbi berada dalam 3 wilayah administratif Kabupaten, dengan 11 (sebelas) kecamatan yang berbatasan langsung, yaitu : Kabupaten Dati II Sumedang meliputi 8 Kecamatan, yaitu : Cimanggung, Tanjungsari, Rancakalong, Sumedang Selatan, Sumedang Utara, Situraja, Darmaraja dan Cibugel.
    Kabupaten Dati II Garut meliputi 2 Kecamatan, yaitu Kecamatan Selaawi dan Balubur Limbangan. Sedangkan Kabupaten Dati II Bandung meliputi 1 Kecamatan yaitu Kecamatan Cicalengka.

    Keadaan penduduk di sebelas kecamatan yang berbatasan langsung dengan kawasan TB. Gunung Masigit-Kareumbi disajikan pada tabel 1.

    (tabel tidak ditampilkan)

  2. Mata Pencaharian
    Mata pencaharian masyarakat di sekitar TB. Gunung Masigit-Kareumbi masih menitikberatkan pada sektor pertanian meliputi : pesawahan, perkebunan, peternakan, perikanan dan perkebunan rakyat.
    Keadaan mata pencaharian  masyarakat disajikan pada tabel 2.

    (tabel tidak ditampilkan)

  3. Pendidikan
    Sebagian besar penduduk disekitar TB. Gunung Masigit-Kareumbi telah mengikuti pendidikan formal, walaupun sebagian masih terdapat penduduk yang tidak sekolah ( %), tidak tamat SD ( %) dan buta aksara ( %).

    (tabel tidak ditampilkan)

  4. Penggunaan Lahan
    Sesuai kondisi lingkungan setempat, penggunaan lahan dalam wilayah sekitar TB. Gunung Masigit-Kareumbi sebagian besar lahan pertanian, berupa sawah, kebun dan pertanian lainnya.
    Gambaran umum penggunaan lahan disekitar kawasan TB. Gunung Masigit-Kareumbi disajikan pada tabel 4.

    (tabel tidak ditampilkan)

  5. Aksesibilitas
    Kawasan TB. Gunung Masigit-Kareumbi memiliki aksesibilitas yang tinggi yaitu letaknya yang relatif dekat dari ibukota propinsi Jawa Barat (±46 Km) dengan kondisi jalan cukup baik, sehingga dapat dicapai dengan mudah oleh berbagai jenis kendaraan darat.
    Terdapat 4 (empat) jalan masuk utama menuju kawasan TB. Gunung Masigit-Kareumbi, sebagai berikut:

    1. Pintu Masuk Blok KW. (Cigoler)
      Ditempuh dengan route jalan Bandung – Cicalengka – Sindangwangi – Blok KW. Jarak kota Bandung – Cicalengka ± 30 Km, menggunakan jalan raya propinsi atau dengan kereta api.
      Dari Cicalengka menuju Sindangwangi (± 13 Km) dengan jalan beraspal kelas III dengan kondisi kurang baik, dari Sindangwangi menuju lokasi Blok KW (±3 Km) berupa jalan berbatu dengan kondisi agak jelek.
    2. Pintu masuk CIbugel / Cikudalabuh
      Dapat ditempuh melalui route Bandung – Balubur Limbangan – Cibugel (±68 Km), atau melalui route Bandung – Sumedang – Darmaraja – Cibugel (±72 Km), jalan beraspal dengan kondisi baik. Dari Cibugel menuju lokasi Cikudalabuh (±3 Km) jalan berbatu dengan kondisi agak jelek.
    3. Pintu Masuk Ciceuri
      Ditempuh melalui route Bandung – Tanjungsari – Haurgombong – Ciceuri (±28 Km), sebagian kondisi jalan dari Haurgombong menuju lokasi Blok Ciceuri (±3 Km) berbatu dengan kondisi baik.
    4. Pintu Masuk Cipancar
      Ditempuh melalui route Bandung – Sumedang menuju CIpancar (±47 Km) dengan jalan beraspal kondisi baik, selanjutnya dari Cipancar ke lokasi (± 1,5 Km) dengan kondisi jalan agak jelek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: