Oleh: kareumbi | 15 Agustus 2010

Workshop Kertas Tradisional Daluang

From Workshop Daluang

Pada hari Sabtu tanggal 7 Agustus 2010 di Kareumbi berlangsung workshop dan peragaan pembuatan kertas tradisional daluang. Workshop ini didampingi langsung oleh seorang anak muda yang sejak tahun 2006 konsisten melakukan eksplorasi kertas khususnya yang berbahan baku serat saeh. Dialah Mufid “Toekang Saeh” Sururi.

Beliau didaulat dan diundang bermain ke Kareumbi untuk melakukan peragaan sekaligus mengenalkan cara pembuatan kertas tradisional kepada para kru kareumbi, warga sekitar dan anak sekolah di sekitar Kareumbi.

Menurut pemuda berusia 35 tahun ini, Daluang merupakan produk kertas yang berasal dari kulit pohon Saeh yang pembuatannya dilakukan dengan metoda kempa. Dalam bahasa asing metoda ini juga disebut beaten bark (kulit kayu yang dipukul). Metoda ini sebetulnya tidak ekslusif, banyak daerah lain di dunia yang melakukan pembuatan kertas ataupun tekstil dari kulit kayu dengan cara pengempaan. Jepang, China dan Hawaii adalah beberapa negara yang memiliki juga tradisi beaten bark baik untuk pembuatan cloth maupun paper. Selain dengan metoda kempa, serat saeh juga dapat dibuat kertas dengan metoda saring/ pulping.

Yang membuat kertas daluang menarik selain masalah sentimental tradisi adalah kualitas yang mampu dihasilkan dari serat ini dinilai berbagai kalangan sangat baik.
Dengan teknik pembuatan yang baik, produk yang dihasilkan memiliki permukaan yang mampu tulis bahkan mampu cetak dengan menggunakan mesin pencetak (printer) biasa. Kekuatan seratnya pun sangat kuat, tidak mudah sobek dan sudah terbukti tahan lama.

Pohon Saeh atau yang disebut juga Paper Mulberry ini adalah sejenis perdu dengan ketinggian dapat mencapai 12 meter. Tanaman yang memiliki nama latin Broussonetia papyrifera ini sekarang sudah cukup langka dan sulit dijumpai.
Syahdan, pada jaman dahulu pembuatan kertas tradisional ini di Jawa Barat hanya dilakukan di daerah Garut, yaitu di Kampung Tunggilis, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja. Selain di Garut, di pulau Jawa pembuatan kertas ini disinyalir terlebih dahulu berkembang di Madura dan Ponorogo.

Tentu workshop yang kami lakukan ini tidak semestinya berhenti sampai tahap pengenalan saja, kami berharap kertas tradisional ini tidak sampai punah bahkan harus terus lestari dan berkembang.  Namun perlu disadari bahwa kelestarian daluang akan sangat tergantung kepada usability serta tentu jangkauan penggunaan yang lebih luas oleh berbagai kalangan.
Tidak ada artinya usaha-usaha konservasi tanpa adanya kesinambungan dan keingingan untuk menggunakan kertas atau produk tersebut secara lebih masif sehingga daur produksi dapat berputar. Semoga.

Lihat foto-foto produk daluang dan acara workshop di galeri picasa.


Responses

  1. […] Workshop Kertas Tradisional Daluang […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: