Oleh: kareumbi | 19 November 2011

Pengelolaan Lahan Kosong di Masigit Kareumbi

sumbangan artikel oleh: bulatuk at gmail dot com

Kawasan Konservasi Taman Buru Masigit Kareumbi memiliki banyak lahan kosong yang tidak memiliki tegakan pohon. Berbagai penyebab diantaranya adalah perambahan hutan, (il)legal logging, alih fungsi, kebakaran, bencana angin atau memang dari dulunya sudah berupa tegalan.

Tidak dipungkiri bahwa ketiadaan tegakan ini sebagian besar adalah ulah manusia sehingga adanya lahan kosong di dalam kawasan konservasi bagaikan  aib sekaligus rahasia umum di kalangan masyarakat sekitar kawasan dan pekerja kehutanan. Layaknya rahasia, data dasar seperti lokasi dan luasan lahan kosong tersebut, kalaupun ada, juga tidak mudah didapatkan kalau tidak terjun langsung ke lokasi.

Data dasar ini menjadi penting, karena menurut pendapat saya, sebuah kawasan konservasi apalagi dengan fungsi taman buru semestinya memang memiliki lahan kosong berupa tegalan atau padang rumput. Tempat dimana satwa liar herbivora pemakan rumput dapat menikmati rumput gemuk yang hanya bisa tumbuh apabila area tersebut tidak diteduhi oleh kanopi pepohonan. Idealnya, area ini terletak di dalam kawasan hutan yang relatif tidak banyak tersentuh oleh kegiatan manusia sehingga satwa merasa secure mencari makan disitu.
Bagaimanapun, padang rumput yang baik secara alamiah akan memiliki kekhasan ekosistem tersendiri yang apabila dirawat dan diawetkan (dikonservasi) tentunya akan menambah jumlah keanekaragaman hayati di hutan tersebut.

Karenanya, saya tidak sependapat dengan pernyataan bahwa semua lahan kosong di dalam Kawasan Konservasi harus ditanami. Tapi demikian juga, saya sangat tidak sepakat apabila untuk mencetak padang rumput dengan dalih untuk pengembalaan satwa, kita harus menebang dulu pohonnya.

Yang perlu dilakukan adalah menentukan lahan kosong mana yang perlu ditanami, dan mana yang perlu dirawat. Banyak parameter yang dapat dijadikan panduan untuk membantu kita menentukan pilihan tersebut. Kecuraman lahan, ekosistem flora dan fauna yang sudah terbentuk, tingkat tekanan dari aktifitas manusia, adanya kelembaban seperti mata air, aliran sungai/ solokan, rawa dan banyak lagi hal lain yang dapat dijadikan pertimbangan.

Denah Lahan Kosong Masigit Kareumbi bagian Selatan - Oktober 2011

Pengelola Masigit Kareumbi belum lama ini mempublikasikan denah titik lahan kosong di kawasan Kareumbi bagian Selatan seperti diperlihatkan gambar diatas. Meskipun baru merupakan representasi data hasil wawancara, namun dari situ saja kita dapat melihat bahwa hampir semua lahan kosong di dalam kawasan konservasi, terletak pada area-area terluar yang berbatasan langsung dengan pemukiman masyarakat. Nampaknya hal seperti ini menjadi tipikal di kawasan-kawasan hutan di pulau Jawa yang sudah demikian padat ini.

Diperlukan pendataan lebih lanjut yang lebih terperinci dan terkini, diantaranya parameter-parameter seperti saya tulis diatas, untuk memastikan kondisi lahan tersebut sehingga dapat segera ditetapkan langkah-langkah pengelolaannya.
Penekanan dapat ditujukan pada lahan-lahan yang dalam denah tersebut ditulis sudah ditanami oleh Pemerintah dalam hal ini Departemen Kehutanan agar terpantau kondisinya dan terukur tingkat keberhasilan (atau kegagalan) penanaman yang telah dilakukan.

Bandung, November 2011
bulatuk at gmail dot com

CATATAN TIM MANAJEMEN:
Terimakasih atas sumbangan ide dan tanggapannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: