Oleh: officetbmk | 1 Desember 2014

Pelatihan Calon Pengajar Muda “Indonesia Mengajar”Angkatan Ke-9 Di Kareumbi

Kemajuan sebuah bangsa tidak lepas dari jasa seorang guru, karena guru sangat berperan aktif dalam membimbing dan membangun karakter anak didiknya yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa ini. Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia dan masih tercatat sebagai negara berkembang menjadikan kualitas pendidikan di Indonesia masih belum merata terutama di kawasan pedalaman luar pulau jawa. Maka dari itu Yayasan Indonesia Mengajar tergerak untuk menghimpun para sarjana muda untuk mengajar di kawasan pedalaman pulau Indonesia yang masih membutuhkan bantuan para pendidik.

Album Selengkapnya

Karena tempat yang akan menjadi tempat mengajar akan sangat berbeda dengan tempat mereka berasal, maka calon pengajar dari Indonesia Mengajar (IM) ini akan terlebih dahulu melewati tahap pelatihan di alam terbuka. Kamis (06/11) kemarin sekitar 52 orang calon pengajar IM angkatan ke 9 melakukan pelatihan di alam terbuka di Kawasan Konservasi Taman Buru Masigit Kareumbi (TBMK). Para calon pengajar ini akan dibimbing dan dilatih untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan baru mereka nanti oleh tenaga profesional dari National Tropical Outdoor Training Centre (NTOTC) – Wanadri. NTOTC sendiri sudah berpengalaman melatih calon pengajar muda Indonesia Mengajar dari angkatan 1 hingga angkatan 8.

Hari pertama dan kedua para calon pengajar muda ini diharuskan mampu bersosialisasi dengan penduduk desa Cigumentong yang merupakan salah satu desa enklav di Kareumbi. Di sini ke-52 calon pengajar muda ini dibagi dalam beberapa kelompok untuk tinggal di rumah penduduk, selain itu diberikan juga materi-materi pendukung bagi mereka untuk hidup di tempat mereka mengajar kelak seperti materi kepemimpinan, pelatihan baris-berbaris dan perbekalan.

Kemudian, para pengajar ini akan dibawa keluar dari desa menuju area hutan untuk mendaptkan materi pelatihan yang berbeda. Di sini mereka diajarkan untuk lebih mampu beradaptasi dengan keadaan alam sekitar dan cara bekerjasama dalam suatu kelompok (Problem Solving). Segala macam rintangan dan halangan harus diselesaikan oleh personal atau kelompok sendiri tanpa harus melibatkan pelatih. “Pelatihan ini memang berat tapi akan lebih berat jika nanti sudah ditempatkan di pulau yang kita tidak tahu keadaannya seperti apa. Belajar sabar itu penting dan tidak boleh ada kata menyerah” ujar salah seorang peserta. Selain itu, setiap pagi hari peserta melaksanakan apel penaikan bendera untuk menumbuhkan rasa nasionalisme para calon pengajar muda ini untuk ditularkan kepada murid-muridnya kelak, selain itu setiap malam setelah kegiatan berakhir diadakan evaluasi kegiatan. Ini akan menjadi bekal terpenting bagi peserta nantinya.

Secara keseluruhan, pelatihan ini menitik beratkan kepada kemampuan personal untuk mampu beradaptasi di lingkungan baru dan kemampuan bekerjasama. Kedua hal ini sangat dibutuhkan bagi para calon pengajar ini agar mampu melaksanakan tugasnya setelah pelatihan ini. Lingkungan yang sulit diprediksi akan menjadi rintangan tersendiri bagi mereka. Setiap pengajar harus mampu melewati itu semua hingga tugas mereka berakhir.

Untuk melihat album kegiatan klik di sini

Bandung, 29 November 2014

Mia Rachmawati


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: