Oleh: kareumbi | 17 Maret 2020

Peningkatan Kewaspadaan Coronavirus lingkup Ditjen KSDAE, Kementerian LHK

Coronavirus (sumber cdc)

Kementerian Lingkungan Hidup dalam hal ini Ditjen KSDAE sebagai national focal point kesehatan satwa liar yang mempunyai tanggung jawab bersama 3 kementerian lain (Kemenko PMK, Kementan dan Kemenkes) untuk mencegah, menanggulangi, dan berbagi informasi kesehatan terutama penyakit zoonotik dan penyakit infeksi baru (PIB) termasuk Coronavirus dengan pendekatan One Health (kesehatan manusia, hewan dan lingkungan) dalam suratnya menyampaikan beberapa hal sbb:

  1. Menyebarkan informasi dan kewaspadaan kepada Novel Coronavirus kepada masyarakat sekitar kawasan konservasi;
  2. Mengintensifkan dan mengefektifkan patroli perdagangan ilegal satwa liar baik yang hidup ataupun yang mati beserta derivatnya untuk mencegah dampak dari Novel Coronavirus ini;
  3. Melakukan sosialisasi tentang dampak penyakit yang disebabkan konsumsi satwa lair terhadap penjual di pasar-pasar yang disinyalir sebagai tempat jualan satwa liar untuk dikonsumsi;
  4. Melaporkan jika ada kasus kematian satwa liar yang tidak wajar baik di in-situ dan eks-situ melalui surat resmi dan ke dalam aplikasi Sistem Pelaporan Kesehatan Satwa Liar SehatSatli (sehatsatli.menlhk.go.id) jika sudah terdaftar;
  5. Agar mendukung langkah-langkah yang diambil dinas kesehatan setempat dan akan terus melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan instansi lainnya terkait dengan penyakit pneumonia ini dan penyakit lainnya terutama yang bersifat zoonoticc dengan pendekatan One Health (kesehatan manusia, hewan dan lingkungan).

Untuk lebih meningkatkan kewaspadaan tersebut, arahan dari Balai Besar KSDA Jawa Barat terhadap para pemegang IUPSWA dan pengelola kawasan Taman Wisata Alam dan Taman Buru untuk melakukan kegiatan sebagai berikut:

  1. Mengintensifkan dan mengefektifkan penggunaan alat pemeriksaan suhu badan kepada seluruh tamu/pengunjung dan masyarakat penyedia jasa wisata setempat di pintu masuk dengan tetap menjaga kenyamanan dan ketertiban.
  2. Menyediakan akses sarana cuci tangan berupa air mengalir dan sabun atau hand sanitizer di tempat-tempat umum seperti pintu masuk, toilet, gedung serbaguna, tangga dan lain-lain.
  3. Membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan usaha yang meliputi:
    – Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau hand sanitizer secara rutin.
    – Batasi menyentuh wajah (hidung, mulut dan mata) sebelum mencuci tangan.
    – Terapkan etika batuk (tutup hidung dan mulut dengan tissue atau lengan atas bagian dalam)
    – Gunakan masker jika batuk/flu
    – Biasakan dalam memberi atau menerima salam tidak melakukan kontak fisik secara langsung.
    – Senantiasa menjaga jarak dengan orang yang sedang demam/ batuk/ bersin minimal 1.5 meter
  4. Menghimbau kepada seluruh pegawa, penyedia jasa wisata dan pengunjung yang sedang batuk/ pilek untuk menggunakan masker.
  5. Melakukan penyemprotan desinfektan pada sarana-prasarana dan bangunan secara berkala.
  6. Menjaga area pengusahaan dan fasilitas bersama tetap bersih.
  7. Menyediakan petugas medis di lokasi area usaha dan senantiasa proaktif melakukan pencegahan Novel Coronavirus.
  8. Menyebarkan informasi dan kewaspadaan terhadap Novel Coronavirus kepada pengunjung dan masyarakat sekitar kawasan konservasi.
  9. Memasang pesan-pesan kesehatan di tempat-tempat strategis di area usaha dan memperbanyak serta menyebarluaskan informasi pencegahan penyebaran Novel Coronavirus di saluran/media komunikasi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Kategori

%d blogger menyukai ini: