Kawasan Konservasi
Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi
(TBMK)
Kawasan TBMK pada peta google
catatan: ini adalah peta interaktif, anda dapat melakukan pengaturan dengan menekan tombol atur yang ada pada peta diatas.
Untuk informasi gambar dan peta lain silahkan mengunjungi laman peta kareumbi.
Letak dan Luas
Kawasan seluas 12.420,70 hektar ini terletak pada area yang menjadi kewenangan tiga kabupaten yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang danKabupaten Garut. Sebagian besar area berada di Sumedang dan Garut.
Secara geografis kawasan TB. Gunung Masigit-Kareumbi terletak antara 6° 51′ 31” sampai 7° 00′ 12” Lintang Selatan dan 107° 50′ 30″” sampai 108° 1′ 30” Bujur Timur.
Data dasar Kawasan yang didapat dari BBKSDA Jabar adalah sebagai berikut:
- Panjang Batas (1980): 128,46 KM
- Orientasi Batas (1997) : Pal Batas seluruhnya 2201 buah (1117 baik, 802 rusak, 282 hilang).
- Penataan Batas Blok : – Blok Pemanfaatan 7667,99 Ha
- Blok Penyangga 4753,51 Ha
Tata Blok
Penataan blok TBMK yang terbaru ditetapkan melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal KSDAE Nomor : SK.13/KSDAE/SET/KSA.0/1/2018 tentang Blok Pengelolaan TBGMK.

Asal Nama
Masigit diambil dari Pasir Masigit yang terletak di sebelah timur kawasan. Sedangkan Kareumbi berasal dari gunung Kareumbi di sebelah barat kawasan. Kareumbi juga nampaknya diambil dari nama sebuah pohon, yaitu pohon Kareumbi (Homalanthus populneus) yang semestinya dahulu banyak terdapat di gunung tersebut.
DAS
Kawasan ini penting sebagai menara air bagi Jawa Barat karena termasuk dalam dua daerah aliran sungai (DAS) terbesar. Kedua sungai tersebut adalah sungai Cimanuk dan sungai Citarum.
Dalam kawasan ini terdapat pula banyak sumber air berupa sungai diantaranya adalah Sungai Cimanggu, Cihanyawar, Citarik Cideres, Cileunca, Cianten, Cikayap, Cibayawak, Cibangau, Cisereh dan Cimacan. Dapat ditambahkan juga Sungai Cideres, Citarik, dan Cimulu. Berdasarkan peta 1911 juga tertera Ci Seupang, Ci Deres, Ci Karungruman, Ci Maungpaeh, Ci Cadas, dan Ci Batugede di blad Sindoelang. Kemudian dari peta blad Margawindu terdapat sungai Ci Anten, Ci Picung -Patraguru, Ci Barengkok, Ci Gunung, Ci Ponaman. Dan di blad Puncak Anjung terdapat sungai Ci Garuguy, Ci Hantap, Ci Picung – Kerenceng dan Ci Gendel.
Topografi
Topografi kawasan umumnya berbukit sampai bergunung-gunung dengan puncak tertinggi gunung Kerenceng ± 1.763 m dpl dan Gunung Kareumbi (1652). Selain itu juga terdapat Gunung Buleud (1432), G. Munggang (1416), G. Cibiru (1412), G. Buyung (1441), Pasir Cihapa (1242), Pasir Nini nini (1230), Pasir Ciapek (1284), Pasir Karungruman, Pasir Bilik, Pasir Ciaro, G. Cinini (1348). Di blad Margawindu terdapat Pasir Rancang (1474), Pasir Nini nini (1330), Pasir Patraguru dan kemudian yang termasuk barisan pegunungan ada Gunung Calancang (1666,6), Pasir Harendong, Pasir Pamalayan, Pasir Keusikmanik, Pasir Gunungsimpay, Pasir Gugur, Pasir Cisoka, Pasir Seuseupan dan Pasir Sindulang. Di Blad puncak Anjung (1396) juga terdapat Pasir Rengganis.
Iklim
Menurut klasifikasi iklim Schmidt Ferguson, kawasan ini termasuk tipe iklim C dengan curah hujan rata-rata per tahun 1900 mm, kelembaban udara berkisar antara 60 – 90 % dan temperatur rata-rata 23 º C
Flora
Hutan alam Masigit Kareumbi di dominasi oleh jenis Pasang (Quercus sp.), Saninten (Castanea argentea), Puspa (Schima walichii), Rasamala (Altingia excelsea). Sedangkan tumbuhan bawahnya terdiri dari tepus (Zingiberaceae), Congok (Palmae), Cangkuang (Pandanaceae) dan lain-lain. Dari jenis liana dan epiphyt yang terdapat di kawasan ini adalah Seuseureuhan (Piper aduncum), Angbulu (Cironmera anbalqualis), Anggrek Merpati (Phalaenopsis sp), Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis), Kadaka (Drynaria sp), dan lain-lain. Hutan tanaman ± 40 % diddominasi oleh jenis pinus (Pinus merkusii), Bambu (Bambusa sp), dan Kuren (Acasia decurens).
Informasi diatas didapat dari buku referensi nomor 1 dan menurut kami sudah kurang tepat.
Ikuti pranala berikut untuk melihat daftar flora di Masigit Kareumbi yang kami kumpulkan dari berbagai sumber.
Fauna
Jenis-jenis fauna yang ada di kawasan TB G. Masigit Kareumbi antara lain: Babi hutan (Sus vitatus), Rusa Tutul (Axis axis), Kijang (Muntiacus muntjak), Anjing hutan (Cuon javanica), Macan tutul (Panthera pardus), Kucing hutan (Felis bengalensis), Ayam hutan (Gallus sp), Kukang (Nycticebus coucang), Bultok (Megalaema zeylanica), Kera (Macaca fascicularis), Lutung (Tracypithecus auratus) dan Burung Walik (Chalcophals indica).
Informasi diatas didapat dari buku referensi nomor 1 dan menurut kami sudah kurang tepat.
Ikut pranala berikut untuk melihat daftar fauna di Masigit Kareumbi yang kami kumpulkan dari berbagai sumber.
Pintu Masuk dan Akses
Ada beberapa pintu masuk ke kawasan TBMK.
1. KW: Bandung – Rancaekek – Bypass Cicalengka – Sindangwangi – Tanjungwangi, jarak ± 43 Km.
2. Cipancar: Bandung – Sumedang – Cipancar jarak ± 47 Km, ke lokasi ± 1,5 Km
3. Cibugel: Bandung – Limbangan – Cibugel jarak ± 68 Km, Cibugel- lokasi ±3 Km
Pintu masuk selengkapnya adalah sebagai berikut:
- Pintu Masuk Blok KW. (Cigoler)
Ditempuh dengan route jalan Bandung – Cicalengka – Sindangwangi – Tanjungwangi – Blok KW. Jarak kota Bandung – Cicalengka ± 30 Km, menggunakan jalan raya propinsi atau dengan kereta api.
Dari Cicalengka menuju Sindangwangi (± 13 Km) dengan jalan beraspal hotmix dalam kondisi baik (2009), dari Sindangwangi melintasi Kp. Leuwiliang menuju pintu masuk Blok KW (±2 Km) berupa jalan aspal kelas III dengan kondisi agak jelek dan sempit.
Dari pintu masuk menuju blok KW ±1 km jalan berbatu makadam dengan kondisi agak jelek. Lokasi KW dapat dilalui dicapai oleh kendaraan roda empat, truk tentara dan bis mini (30 seat).
STATUS: AKTIF - Pintu masuk Cibugel / Cikudalabuh
Dapat ditempuh melalui route Bandung – Balubur Limbangan – Cibugel (±68 Km), atau melalui route Bandung – Sumedang – Darmaraja – Cibugel (±72 Km), jalan beraspal dengan kondisi baik. Dari Cibugel menuju lokasi Cikudalabuh (±3 Km) jalan berbatu dengan kondisi agak jelek.
STATUS: TIDAK AKTIF - Pintu Masuk Ciceuri
Ditempuh melalui route Bandung – Tanjungsari – Haurgombong – Ciceuri (±28 Km), sebagian kondisi jalan dari Haurgombong menuju lokasi Blok Ciceuri (±3 Km) berbatu dengan kondisi baik.
STATUS: TIDAK AKTIF - Pintu Masuk Cipancar
Ditempuh melalui route Bandung – Sumedang menuju Cipancar (±47 Km) dengan jalan beraspal kondisi baik, selanjutnya dari Cipancar ke lokasi (± 1,5 Km) dengan kondisi jalan agak jelek.
STATUS: TIDAK AKTIF
Pintu masuk utama menuju lokasi yang sudah dikelola oleh Manajemen adalah yang melalui Cicalengka. Lokasi pintunya disebut “KW” yang merupakan singkatan dari “Kawasan Wisata“. Pintu ini terletak di kampung Leuwiliang, Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung.

KW dapat dicapai lebih kurang 14km dari kota Cicalengka, atau sekitar 90 menit berkendara dari Bandung. Jarak dari pintu tol
Jarak dari Tol Pasteur sampai KW adalah 62 kilometer.
Untuk membaca apa saja yang terdapat di KW, silahkan ikuti pranala ini.
Sejarah Pengelolaan Kawasan
Karena termasuk kawasan konservasi, kawasan ini menjadi tanggung jawab Departemen Kehutanan cq. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam cq. Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.
TB. Gunung Masigit Kareumbi saat ini berada di bawah koordinasi Bidang Wilayah II dan Seksi Konservasi Wilayah III BBKSDA Jabar.
Periode 1921 – 1927
Berdasarkan Gouvernment Besluit No. 69 tanggal 26 Agustus 1921 dan Gouvernment Besluit No. 27 tanggal 27 Agustus 1927, komplek hutan Gunung Masigit Kareumbi ditetapkan sebagai kawasan Hutan (1).
Periode 1950an
Kawasan hutan Gunung Masigit Kareumbi dikelola oleh Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat. Dan selama dalam pengelolaan ini telah dilakukan kegiatan reboisasi antara tahun 1953 – 1976 dengan jenis tanaman pinus, rasamala, dan puspa seluas 4809,98 Ha (1).
Periode 1966
Pada sekitar tahun 1966, Pangdam Siliwangi, Bpk. Ibrahim Adjie memprakarsai pengembangan usaha di kawasan ini. Beliau membangun rumah di salah satu pintu masuk kawasan, yang selanjutnya disebut blok KW. Karena kesukaan terhadap olahraga berburu, beliau juga mengembangkan dan mengintroduksi berbagai jenis rusa, diantaranya Rusa Sambar (Cervus unicolor), Rusa Timor (Cervus timorensis), dan Rusa Tutul (Axis axis) (2).
Usaha ini dilakukan bersama-sama dengan Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat dengan seksi PPA Jawa Barat II dan Pemda Kabupaten bandung dengan tujuan memanfaatkan sumberdaya satwa liar yang dibina secara baik, sekaligus mengelola secara efisien. Jumlah rusa yang di introduksi sebanyak 25 ekor pada lahan berpagar seluas ±4 ha. Setahun kemudian pagar tersebut dibuka dan rusa dilepaskan ke dalam hutan (1).
Periode 1970 – 1988
Melalui SK. Menteri Pertanian No 297/Kpts/Um/5/1976 tanggal 15 Mei 1976 kawasan ini ditetapkan sebagai Hutan Wisata dengan fungsi Taman Buru.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 2 tahun 1978 tentang berdirinya Perum Perhutani Unit III Jawa Barat, ditetapkan bahwa wilayah kerja Perum Perhutani III meliputi bekas wilayah Dinas Kehutanan Jawa Barat, diantaranya kawasan TB. Masigit Kareumbi.
Kemudian pada tahun 1980 dilakukan penataan batas luar oleh Direktorat Jenderal INTAG Departemen Kehutanan. Peta lampiran batas luar ini disahkan oleh Menteri Kehutanan pada tanggal 2 Februari 1982.
Pada periode ini dibuatlah Rencana Pengelolaan (Management Plan) Hutan Wisata Buru Gunung Masigit-Kareumbi Tahun 1979 – 1984 oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam. Dalam rencana pengelolaan tersebut, dilakukan pembagian zonasi ke dalam 4 zona, yaitu:
- Zona Semi Perlindungan (Wilderness Zone) seluas ± 7.800,7 ha.
- Zona Rekreasi (Intensive Use Zone) seluas ± 520 ha.
- Zona Perlindungan (Sanctuary Zone) seluas ± 4.100 ha.
- Zona Penyangga (Buffer Zone) meliputi areal berjarak ± 500 m dari batas kawasan ke arah luar
Berdasarkan PP No. 36 tahun 1986 tentang Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani) ditetapkan bahwa wilayah kerjanya meliputi hutan negara yang berada di Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, kecuali Hutan Suaka Alam, Hutan Wisata (termasuk Taman Buru) dan Taman Nasional.
Sebagai tindak lanjut PP tersebut maka pada tanggal 27 Februari 1988 telah dilakukan serah terima pengelolaan Hutan Wisata Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi, dari Direksi Perum Perhutani kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) yang disaksikan oleh Menteri Kehutanan di Bali yang tertuang dalam naskah Berita Acara Serah Terima dengan ketentuan bahwa Perum Perhutani masih dapat mengelola hutan tanaman pinus pada TB. Gunung Masigit Kareumbi yang dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan petunjuk yang dikeluarkan oleh Departemen/ Direktorat Jendral PHPA (1).
Periode 1988 – 1998
Kemudian pada tahun 1990 dilakukan program Perencanaan Tapak (Site Plan) oleh Fakultas Kehutanan IPB kerja sama dengan BKSDA III. Dalam dokumen tersebut pembagian kewilayahan kawasan dilakukan sebagai berikut:
- Zona pengelolaan di Blok KW, Ciceuri, Cipancar dan Cibugel, Cikudalabuh
- Zona pengembangbiakan satwa buru di blok KW dan Cibugel
- Zona buru yang merupakan sebagian besar kawasan
- Zona non-buru di Blok Cipancar dan Ciceuri
- Zona penyangga diluar kawasan
Kemudian pada tahun 1992 dilakukan kembali program pembuatan rencana pengelolaan (management plan) dari Direktorat Jenderal PHPA yang disusun oleh PT. Aristan Ekawasta. Dalam konsep tersebut, kawasan dibagi dalam:
- Zona pengelolaan intensif
- Zona penangkaran
- Zona peliaran dan perlindungan satwa buru
- Zona padang buru di
- Zona wisata alam lainnya, dan
- Zona desa binaan/ daerah penyangga
Sehingga pada tahun 1990 – 1993 ini dapat disebutkan bahwa TB. Masigit Kareumbi dijadikan proyek percontohan oleh BKSDA III dengan sumber dana mencapai Rp. 520 juta. Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk pembangunan sarana dan prasarana (1).
Dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 104/Kpts/II/1993 tanggal 20 Februari 1993, maka hak pengusahaan TB. Gunung Masigit Kareumbi diserahkan kembali kepada Perum Perhutani (1).
Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 141/Kpts/II/1998 tanggal 25 Februari 1998, Pengusahan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi oleh Perum Perhutani kembali dicabut (1).
Periode 1998
Muncul surat dari Menteri Kehutanan No. 235/Menhut/-II/1998, tanggal 25 Februari 1998 yang menyetujui bahwa Hak pengusahaan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi diserahkan kepada PT. Prima Multijasa Sarana (PMS) yang berada di blok pemanfaatan dan blok buru seluas 7.560,72 ha. Sedangkan sisanya seluas 4809,98 ha yang didalamnya terdapat tegakan pinus, hak pengusahaannya diserahkan kepada Perum Perhutani. Hak pengusahaan tersebut mencakup ijin untuk memanfaatkan dan menyadap getah.
Dalam perjalanannya kawasan ini kemudian ditetapkan melalui SK. Menhut No. 298/Kpts-II/98 tanggal 27 Pebruari 1998 dan nama resminya adalah Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi.
Surat Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan No. 733/II/Kum/1998 Tanggal 16 April 1998, tentang Ijin Prinsip Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi dinyatakan bahwa ijin Pengusahaan Perburuan bertanggung jawab atas kelestarian fungsi kawasan. Selain itu, kepada Perum Perhutani diberi kesempatan untuk menyadap getah pinus dan tidak untuk memanfaatkan kayu.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 923/Kpts-II/1999 Tanggal 14 Oktober 1999, diberikan ijin Pengusahaan Taman Buru kepada PT. PMS pada blok pemanfaatan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi.
Namun dalam perjalanannya, pihak pengelola ini terkait kasus penebangan hasil hutan terutama kayu yang menyeret banyak pihak kepada hukum, terutama pihak pengelola sendiri sampai akhirnya kawasan ini diambil lagi pengelolaannya oleh BKSDA.
Periode 2008 s/d Sekarang
Sampai tahun 2008, kawasan ini terutama area “KW” berada dalam kondisi terbengkalai. Infrastruktur dan bangunan yang dibangun oleh pengelola sebelumnya termasuk oleh pemrintah dan berbagai program yang telah diluncurkan lambat laun rusak. Sebagian besar konstruksi bangunan dan infrastruktur, termasuk bangunan rumah pak Ibrahim Adjie dicuri orang. Bangunan Pusat Informasi Taman Buru milik BKSDA juga tak luput dari perusakan dan sudah tidak dapat digunakan kembali. Wisma Pemburu, kompleks taman safari mini, kolam renang, rumah sakit hewan bahkan mesjid juga tidak luput dari kerusakan.
Selain itu, perambahan kawasan untuk pertanian dan pengambilan kayu untuk keperluan bahan bangunan serta kayu bakar juga marak. Demikian juga perburuan liar yang menyebabkan satwa terutama rusa tak berbekas.
Pada sekitar tahun 2006, sesepuh Wanadri yang sering melakukan perjalanan ke kawasan ini, Remi Tjahari (W-090-LANG) melihat potensi kawasan yang sangat besar. Namun di balik potensi kawasan sebagai daerah konservasi dan sangat layak dikembangkan untuk wisata dan pendidikan alam terbuka juga terdapat potensi kerusakan lingkungan bila tidak dikelola dengan baik.
Akhirnya pada tahun 2007, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri menyampaikan minat untuk melakukan pengelolaan kawasan pada pihak Kementrian Kehutanan dan BBKSDA. Setelah menempuh berbagai kewajiban diantaranya pembuatan Rencana Jangka Pendek dan Menengah, pada bulan April tahun 2008, BBKSDA mengeluarkan surat keputusan No: 750/ BBKSDA JABAR. 1/ 2008 yang kemudian direvisi oleh SK No. 1111/BBKSDA JABAR.1/2009 yang pada intinya menyatakan bahwa BBKSDA setuju untuk melakukan kerjasama kemitraan Optimalisasi Pengelolaan Kawasan dengan Wanadri dan mekanisme kerjasamanya ditelurkan kedalam dokumen tersebut dengan diketahui oleh Departemen Kehutanan.
Selanjutnya, pihak Dewan Pengurus Wanadri menunjuk Koperasi Wanadri melalui surat No: 02/ SPK/ DP/ XX/ W/ IV/ 2008 untuk membentuk sebuah badan otonom yang dapat melakukan fungsi-fungsi pengelolaan di TBMK.

Maka pada akhir 2008 dibentuklah tim yang disebut Tim Manajemen Pengelola Kawasan Konservasi Masigit Kareumbi.
Sejak itu tim mulai bekerja melakukan pembenahan di kawasan utama yang disebut “KW”. Model pembenahan kawasan dengan cara cost-recovery dan pola pelibatan masyarakat sekitar kawasan serta kolaborasi dengan berbagai pihak. Strategi tersebut menjadi andalan tim manajemen ini.
Program-program awal yang dilakukan di sini adalah Pendidikan & Pelatihan serta Program Konservasi Wali Pohon.
Sejak diperkenalkan pada akhir 2008 sampai Maret 2009, program Wali Pohon telah menanam sejumlah 10.500 batang pohon dengan model adopsi bergaransi selama 5 tahun.
Program Pengelola
Enam program yang telah direncanakan dalam Rencana Jangka Pendek dan Menengah secara garis besar adalah:
- Pendidikan dan Pelatihan Alam Terbuka
- Ekowisata
- Konservasi
- Pemulihan Populasi Satwa Buru dan Wisata Buru
- Pemberdayaan Masyarakat
- Penelitian dan Pengembangan
Disadari, bahwa pengelolaan sebuah kawasan konservasi bukanlah masalah yang mudah. Dan melihat sejarah pengelolaan yang cukup panjang, dapat diperkirakan bahwa tantangan yang ada di kawasan ini cukup kompleks. Karenanya tim Manajemen tidak dapat bergerak sendiri, namun mutlak harus melibatkan berbagai pihak, terutama yang peduli terhadap kelestarian sumber daya alam. Tentunya termasuk anda!
Mari, satukan hati dan pikiran. Dukung kawasan ini dengan cara yang bisa anda lakukan. Semoga Indonesia selalu lestari.
Informasi lebih lanjut mengenai Kawasan Konservasi Masigit Kareumbi dapat menghubungi kontak kami.
Tentang Blog Ini/ Disclaimer
Blog Masigit Kareumbi yang beralamat di https://kareumbi.wordpress.com ini merupakan wahana untuk melakukan kompilasi informasi terkait kawasan konservasi Masigit Kareumbi dan apa yang telah dilakukan oleh Wanadri dalam kerangka kerja sama penguatan fungsi kawasan antara BBKSDA Jabar dan Wanadri.
- Tulisan-tulisan di blog ini dibuat bukan oleh ahli kehutanan, ahli biologi maupun ahli konservasi, mohon dimaklumi dan silahkan dikoreksi apabila ada kesalahan, email kami.
- Tulisan-tulisan ini merupakan dokumentasi sementara, diambil dari berbagai sumber dan beberapa informasi telah disesuaikan dengan kondisi terkini. Koreksi mengenai isi tulisan yang terdapat di dalam blog ini dapat ditujukan kepada kami.
Referensi: 1. Rencana Pengelolaan taman Buru Masigit Kareumbi, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jabar II, Ciamis, Desember 2003 2. Wawancara Penduduk dan Warga Lokal 2008-2011 3. Laporan Identifikasi Permasalahan Pengelolaan Kawasan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi Jawa Barat. Departemen Kehutanan. BKSDA III. Proyek Perencanaan Evaluasi Konservasi Kawasan dan Jenis Jawa Barat. 1995.
4. Peta 1911 blad Sindulang, Puncak Anjung dan Margawindu
EOF - about us. last update 20200903 14:41
WANADRI,
Saluuuut untuk Kang Remy yg jeli melihat potensi, GOD BLESS U
dan juga untuk Feby dan teman2 yg mengelola hariannya….Selamat Menghutankan kembali hutan2 kita, agar kita semua memperoleh udara segar kembali….
Insya Allah …mudah2an saya bisa membawa teman2 lain diluar WANADRI untuk bermain dan merasakan keindahan hidup dialam bebas.
SALAM LESTARI & SALAM RIMBA
iNDRA tJ – W 288 PR
By: indra tj on 14 Mei 2009
at 2:53 pm
bang ini diyandri anak uin bandung.
saya mau tanya,dsitu kan nama’y TB gunung masigit kareumbi,tp gunung masigitnya sebelah mana?krn sekarang saya lg penelitian di g.kareumbi.
trs kl bisa masukin gambar gunung-gunung yg terdapat di kareumbi dr jarak dekat.terutama yg di namain G.gedud dan G.cisumat.
sekian terimakasih.
By: diyandri on 28 September 2011
at 2:02 pm
Gunung masigit kalau di peta namanya Pasir Masigit, koordinatnya -6.993980 107.908302,.
By: kareumbi on 10 Oktober 2011
at 10:58 pm
Saluuut!! ….
Kita sudah mendapat anugrah negara tropis yang subur ….. jadi sangat wajarlah kalau hutannya lebat dan kaya dengan keaneka-ragaman satwa dan faunanya ……
Kita sering jadi prihatin apabila mengetahui berbagai usaha untuk melestarikan lingkungan harus kembali lagi ke titik awal ketika dihadapkan pada kendala yang terkait dengan kondisi dan sikap masyarakat …. namun rekan-rekan Wanadri telah tertempa untuk tidak mudah putus asa ….
Lanjutkan terus usaha untuk melestarikan lingkungan!
By: (Wawan) Setiawan on 31 Mei 2009
at 2:04 pm
Pada tanggal 4-5 Juli 2009, saya bersama istri, anak2 dan keponakan2 berkesempatan menginap di kawasan ini. Tempat ini sangat berpotensi untuk di kembangkan dan dipertahankan sebagai kawasan konservasi. Lebih terpenting lagi, ide mulia teman2 Wanadri patut didukung. Kami sangat senang bisa menginap di rumah pohon … Insya Allah akan berkunjung kembali.
Salut buat ide mulia ini!
Dede Djalins
By: Dede Djalins on 6 Juli 2009
at 11:08 am
kang sukses buat kareumbinya pokonamah almen siap publikasikan ama kansumen pokonamah salam rimba
By: odik almen on 23 Juli 2009
at 5:07 pm
saya selaku orang yang tinggal di wilayah Kareumbi tepatnya di wilayah Buanamekar Cibugel. sangat berterima kasih atas usahanya untuk menghijaukan kembali kareumbi. saya sedih pas dulu pengalihan dari BKSDA hutanku di babad habis….
terima kasih atas usahanya untuk menhijaukan kembali saya sudah lihat perubahannya saya turut dukung
By: Rona Kurniawan on 26 Agustus 2009
at 10:01 am
hebat euy..
Sebagai keturunan asli orang sana saya merasa bangga dan haru!!!
waktu saya kecil hutan disekitar blok KW sampai kampung paling ujung, yaitu kampung cimulu kondisi hutannya sangat Lebat dan ditumbuhi banyak pepohonan besar. Tapi semuanya hampir saja musnah ketika penebangan hutan mulai marak disekitar lokasi terutama sepanjang blok KW sampai kampung cimulu. Mudah2an, gunung kareumbi menjadi asri kembali dan tetap terjaga ekosistemnya..
Kalau saya mau terlibat dalam program/kegiatan2 yang dilakukan temen2 dari wanadri bagaimana caranya?? repply via email ya..
hatur nuhun….
By: AJAT SUDRAJAT on 18 September 2009
at 10:04 pm
Wah kang ajat dari ‘lembur’ palih mana? boleh juga kang dongkap saja ke KW.
By: kareumbi on 29 Oktober 2009
at 11:17 pm
Punten nembe di waLer..
KebetuLan keluarga besar saya asLi dari sana, bahkan sampai nenek moyang, hehehe..
sekarang mah keluarga saya sudah pindah dan tinggal di Bekasi, tapi masih banyak sanak saudara disana, di daerah Leuwiliang dan kampung cimulu.
Insya ALLah saya akan sempatkan main kesana..
By: ajat sudrajat on 10 November 2009
at 1:35 am
kalo mau berburu di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi, bagaimana prosedurnya
By: willy on 30 September 2009
at 11:56 pm
Dh Pak Willy,
Terima kasih atas komentarnya.
Sampai saat ini kami masih menyusun rencana program perburuan. Namun untuk perburuan kedepan akan lebih diarahkan pada perburuan dengan metoda dan alat-alat tradisional non senjata api. Jadi apabila ada pemburu baik lokal maupun internasional yang ingin merasakan sensasi berburu babi secara tradisional dengan didampingi pemandu bisa dilakukan di Masigit Kareumbi.
Salam.
By: kareumbi on 1 Oktober 2009
at 3:10 pm
dengan kata lain, belum bisa berburu di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi ini yah??
hmmm… aneh juga, Taman Buru tapi belom boleh berburu di situ..
oh iya.. berburu pake senapan angin boleh tidak??
By: willy on 22 Oktober 2009
at 4:23 pm
Boleh saja kalau mau berburu. Kami bisa sediakan guide, tapi berburunya tradisional.
By: kareumbi on 29 Oktober 2009
at 11:16 pm
berburu tradisional? maksudnya bagaimana?
pakai alat buru tradisional ? pakai jerat, perangkap, jaring, tombak, panah, sumpit?
seperti yg tertera dalam peraturan pemerintah?
kapan saja boleh beburu di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi ini?
hewan apa saja yg boleh di buru?
By: willy on 3 November 2009
at 11:11 pm
wah kang biasa kerjasama dengan radio prfm radio
By: iwanbahari on 26 Oktober 2009
at 10:43 am
Boleh juga kang, akang dari prfm? boleh kontak2 ke info at tbmk dot org
By: kareumbi on 29 Oktober 2009
at 11:15 pm
Pengen ikut euy..
ada lowongan ga ya..
By: jhidhor on 28 Oktober 2009
at 1:26 pm
lowongan untuk relawan ada, nantikan saja postingnya disini 🙂
By: kareumbi on 29 Oktober 2009
at 11:14 pm
Kareumbi……sudah semaju apakah sekarang?????.
bagaimana kabar 3 serangkai yang saya titip disana alias pohon no urut 43,44,45??????
By: arip fathurrohman on 4 November 2009
at 1:52 pm
Punten,. Akang2 umpami aya lowongan relawan abdi bade ngiring,. diantos infona.
TETAP LESTARIKAN HUTAN KITA…
By: Junan on 6 November 2009
at 9:46 pm
Bagus Kareumbi setelah mendegar info dari Anak2 Wandri kemarin… Jadi Pengen kesana…Oia klo da event coba tolong kabar2in yah….
By: Indra on 29 Januari 2010
at 5:11 pm
Harusnya dibahas pula secara detail tingkat kerusakan hutan itu yang dilakukan oleh pak Yudi….kan kerusakannya cukup parah
By: fran on 23 Februari 2010
at 3:50 pm
saya tertarik untuk penelitian untuk tugas akhir dan PKL saya disini
tentang pengembangan atau perencanaan kegiatan ekowisata disini
By: muhammad muty syauqi on 31 Juli 2010
at 8:42 pm
Saat ini kondisi Taman Buru Masigit Kareumbi (TBMK) sudah sangat menghawatirkan. Jangan pernah membayangkan keindahan untuk yang memimpikan keindahan alam, karena kondisi lingkungan hutan TBMK sudah rusak berat dan tidak terurus bak seorang gembel yang kucel, dekil dan kotor. Dan jangan pula membayangkan asyiknya berburu bagi yang mempunyai hobby berburu. Anda hanya akan mendapatkan bentol2 akbibat nyamuk-nyamuk liar yang mengerubungi Anda. Binatang buruannya sudah tidak ada sama sekali. Entah sudah pada pindah kemana.
Minimnya pengawasan terhadap Taman Buru Masigit Kareumbi, membuat pembalakan liar marak terjadi. Akibatnya luas hutan yang masih produktif kian menipis. Minimnya petugas pengawasan (bahkan nyaris tidak ada), semakin mempermudah oknum merusak hutan di TBMK.
By: Roby Sobardi on 9 November 2010
at 12:45 pm
hebat euy ngingetkeun baheula kuring nyorang pake sapeda (bati waasna), maklum ayeuna ngarantau ka smatera. salam kasadya balad wanadri smoga sukses slalu
By: danghery on 1 Februari 2011
at 10:16 am
bravo….semoga niat baik wanadri utk melestarikan alam masigi-kareumbi ini berhasil. salut….
By: yuli krisbudiyanti on 25 Maret 2011
at 12:58 am
[…] Info detail kareumbi LikeBe the first to like this post. […]
By: Menuju Gunung Kareumbi Sumedang « Massri's Weblog on 20 Juni 2011
at 6:03 pm
Pada tanggal 13-14 Juli 2011 kami serombongan berkesempatan merasakan indahnya kawasan hutan ini. Sungguh suatu pengalaman yg sangat mengesankan dan tak terlupakan saat berada di Kawasan Konservasi Gunung Masigit-Kareumbi ini. Hutannya begitu alami dgn udaranya yg sejuk, jauh dari keramaian.
Terima kasih kpd Bp. Eddy Sinuraya dari Wanadri yg telah menerima kami dgn hangat dan begitu ramah, juga atas segala penjelasannya ttg keberadaan dan segala potensi yg ada pd kawasan ini.
By: Dondy Kadarsan on 16 Juli 2011
at 12:39 am
Sebagai warga jawa barat yang sekarang hidup di perantauan saya salut dan sangat berterima kasih atas perhatian dan kerja keras teman- teman di Jawa Barat khususnya Wanadri didalam pelestarian alam … saya berkomitmen untuk menjadi “wali pohon” … salam
Trevi
By: trevi on 20 Juli 2011
at 10:06 am
Salam kenal, makasih kenalannya.
By: Alif on 29 Juli 2011
at 4:33 am
Mohon ijin mampir dan ikutan komen kang… Salam kenal dari pekerja konservasi di sulteng http://noerdblog.wordpress.com/ . Sukses selalu untuk anda
By: Noer on 2 November 2011
at 12:02 pm
Salam kenal kembali dan sukses juga untuk anda.
Kalau ke Bandung mampir-mampir kang.
By: kareumbi on 2 November 2011
at 3:02 pm
saya suka dengan keadaan kw…. harus terus terjaga
By: dedi hermansyah on 22 Desember 2011
at 11:40 am
peduli gunung peduli lingkungan peduli masa depen,,,,,
By: Abu Maisya on 2 Januari 2012
at 11:21 pm
tempat yang bagus,masih natural..tetapi masih belum banyak informasi mengenai tempat ini..
By: Lestari Stannia on 27 Januari 2012
at 3:35 pm
Waahhh… Keren Coyy.. tambah lagi dong informasinya biar tambah mantaffff…
By: Han on 1 Maret 2012
at 10:27 am
kampung cimulu….
By: ismakesjabar on 9 Maret 2012
at 11:23 pm
Terus hejo …
By: Rudy Boegy Hermawan on 13 Maret 2012
at 12:34 pm
cigumentong,,kelahiran almarhum bokap..dan saya sangat berterima kasih atas di lestari kan kembali hutan yg ada di cigumentong..
By: Nanda Darmawan on 19 Maret 2012
at 7:10 pm
yang saya tahu TB masigit Kareumbi merupakan kawasan konservasi. menurut UU No 5 tahun 1990 pemangku kawasan konservasi adalah PHKA cq BBKSDA Jabar yang merupakan pengelolat kawasan sebagai institusi pemerintah, wanadri dalam hal ini bukan sebagai pengelola akan tetapi merupakan mitra pengelola berdasarkan MoU yang telah disepakati bersama.
bukan berarti setelah timbulnya MoU seluruh kawasan TB Masigit Kareumbi diberikan kewenangan penuh kepada Wanadri.
oleh karena itu segela kegiatan yang akan dilaksanakan di TB Masigit Kareumbi seharusnya dilakukan bersama2 dengan pihak BBKSDA Jawa Barat, pihak BBKSDA Jabar bukan hanya mengetahui saja.
Apalagi fakta Wanadri hanya sebagai fasilitator atau menjembatani pihak donor dengan pengelola kawasan, jangan sampai dengan dalih pengelolaan kawasan digunakan untuk mendapatkan donor dan lebih menguntungkan sepihak dalam MoU yang telah disepakati.
By: Mona on 15 April 2012
at 10:50 am
Berikut jawaban dari Pengurus Koperasi Wanadri:
Dengan Hormat Mona,
– ini pengalaman pertama Wanadri bekerjasama jangka panjang dg Kementerian Kehutanan c.q. BBKSDA Jabar
– Wanadri merasa mendapat ‘kehormatan’ dengan kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah – dlm hal ini BBKSDA Jabar/Kemenhut – untuk ikut ‘menjaga’ dan ‘menghijaukan’ kembali kawasan konservasi milik bangsa & negara ini yang sudah sekian tahun kurang terawat dengan baik
– o.k.i., Wanadri dengan penuh semangat bersedia untuk bekerjasama, apalagi mengingat lokasi TBMK yang relatif dekat dengan lokasi dimana Wanadri berada (Bandung)
– artinya, karena dekatnya lokasi, Wanadri merasa sanggup dan mampu untuk ikut membantu menjaga & merawat kawasan konservasi TBMK tsb
– di dalam pelaksanaannya, tentu saja Wanadri merasakan banyak kekurangan dan (mungkin) kesalahan-kesalahan,
– saat ini, April 2012, Wanadri sudah menyampaikan Laporan Tahunan 2011 yang sedang dievaluasi oleh pihak BBKSDA,
– Wanadri sedang menunggu hasil evaluasi dari BBKSDA tsb untuk perbaikan ke depan
– di samping itu, secara keuangan, Wanadri juga siap untuk dibahas secara bersama-sama & terbuka (‘audit’).
Terimakasih atas masukan dan perhatiannya. Salam Lestari.
By: kareumbi on 17 April 2012
at 5:21 pm
saya mau tanya informasi mengenai harga tiket masuk, nginep di rumah pohon, terus kalau pengen nyoba flyingfoxnya sama perahu canoe-nya bayar atau enggak..hehe.. maaf ya saya kan masih anak sekolah. sekalian pengen ngajak temen2 main ke sana jadi infonya lengkap
By: sara on 30 Juni 2012
at 3:17 pm
ada yang tau sejarah penangkaran rusa di kareumbi?mhon bantuannya y,,
By: Astronot Sumedang on 30 Agustus 2012
at 7:28 pm
Dear Sara,
Untuk informasi bisa menghubungi:
1. BBKSDA Jabar. Jl. Gedebage Selatan No. 117 Bandung Ph/fax: +62 22 7567715
2. Kantor Resort Kareumbi Selatan. Jl. Citarik, Cicalengka.
atau,
3. bisa ngobrol2 juga kantor Manajemen Kareumbi (lihat di bagian kontak)
Semoga bermanfaat.
By: Kareumbi on 31 Agustus 2012
at 10:51 pm
Saya sempat singgah di sana selama 2 hari membawa rombongan dari SMA YAS Bandung, suasana dan lokasi sangat menunjang sekali dalam acara pembekalan sekaligus Penutupan LDKS, namun kami berharaf kepada semua pihak yang terkait dalam keberadaan Masigit Kareumbi ini seyogyanya dapat untuk membenahi sarana prasarana, baik jalan menuju lokasi perlu sekali pembenahan agar pengunjung dapat mudah sampai dengan perjalanan yang nyaman, maupun sarana penunjang lainnya.
By: Hermansyah (pemerhati Hutan dan Wisata Alam on 13 November 2012
at 12:19 pm
Untuk harga sewa menginap di rumah pohon permalam berapa??
Thx
By: kazwini13 on 30 November 2012
at 1:49 pm
punten ngiring nyarios…..saya sbg masyarakat yang pernah tinggal disana..hanya ingin berbagi kpd teman2…..dahulu di gunung masigit kareumbi atau sy suka menyebutnya dengan KW…..ya KW adalah hutan lindung,,dan tempat berburu…yang asri hijau, hewan rusa pernah saya lihat banyak sekali….rumah2 pohon yg indah. akan tetapi semakin kesini….hutan ini sy lihat semakin tdk terawat….bangunan rumah pengelola hancur….apalagi sekitar tahun 1998-2000 hutan ini habis di gundulu para penjahat kayu…..sbgi masyrakat di sana sy sngat kcewa dengan adanya penebangan tsb. hampir setiap hari puluhan truk pengangkut kayu mondar mandir…mnjadikan akses ke daerah kami mnjadi rusak…..!
sy dengar skrang ini dari pihak wanadri katanya sebagai pengelola perawatan hutan di sana….sy sangat senang mndengarnya,….tp saya belum sempat main lagi kesana skarang…pengen rasanya melihat kembali hutan ku……..munkin skarang lebih indah kali yaaaaaaa.
insya alloh sy main lahh…….
salam kpd wanadri..
kp cimulu
cigumentong
lewiliang
jambu aer
cinulang
dan kmpung saya di sindang wangi
suksesss terusss jaga hutankuuu
By: dede rahmat on 3 April 2013
at 10:34 pm
Pokokna mah kawasan yang bagus, anak-anak juga pada seneng renang karena airnya yang jernih, waktu saya kesana ternyata toiletnya juga bersih karena masih baru, mudah-mudahan saja terus seperti itu..
By: Teh Tati on 22 Oktober 2013
at 3:15 pm
semoga kawasan ini tetap lestari..siapapun yang mengelola.. salam kenal dari komunitas kecil di bandung. Nuhun.
By: satubumikita on 2 Desember 2013
at 12:48 pm
Saya baru saja pulang dari sana,Disana memang tempat yg menyenangkan
By: Fransiskus Narpati Pramudito on 24 Desember 2014
at 9:40 am
Bisa buat rekreaksi anak SMK ga?ganginep si cuma main aja sekalian refreshing. Tolong dijawab yahh
By: Delfira Amanda on 12 Januari 2015
at 1:32 pm
Blogpost saya tentang Taman Buru Masigit Kareumbi http://goo.gl/B7UzCw
Semoga informatif dan bermanfaat, mohon maaf apabila ada kesalahan penyebutan nama atau harga 😀
By: Shafira on 25 Januari 2015
at 11:20 pm
Jd pgn berkunjung kesana, sip akang2 wanadri, jempol deh
By: Jojon Borojon on 8 Juni 2015
at 6:03 pm
Kemarin saya melakukan geotrack ke gunung kareumbi, faktor edafik gunung kareumbi apa ya ka? Saya anak SMAN1Majalaya
By: Adirra Berliani Chairunika on 23 November 2015
at 5:38 pm
Wahh mantap buat hikingtuh kaya nya
By: hendraanom03071994 on 23 Juli 2017
at 1:00 pm
Bisa minta no cp yg bs dihubungi bila mau bertanya soal kw kareumbi?
By: Elisya on 12 November 2018
at 1:28 pm
Untuk kunjungan bisa hubungi kontak +62 831-1170-199
https://kareumbi.wordpress.com/kontak-kami/
By: kareumbi on 13 November 2018
at 1:48 pm
Maaf ikut nimbrung, Untuk Taman buru Masigit Kareumbi untuk saat ini dengan berdasar pada Permen LHK No.43 Tahun 2017 tentang Pemberdayaan Masyarakat serta sebagai upaya keikutsertaan masyarakat dlm pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di blok tradisional. apa kami bisa mengajukan kegiatan kerjasama tersebut, sedangkan sebagian tetangga desa sebelah sudah banyak yang melaksanakan kegiatan pemanfaatan HHBK diantaranya penyadapan getah pinus. Awal izinnya itu diajukan kemana?
By: Hilman Maulana on 13 Mei 2019
at 1:07 pm
Terima kasih Kang Hilman. Boleh tau akang di daerah/desa mana?
Untuk HHBK, dapat terlebih dahulu mempelajari dokumen terkait yaitu Perdirjen KSDAE No. 6 tahun 2018 tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi. Dapat diunduh di: http://ksdae.menlhk.go.id/assets/news/peraturan/Perdirjen%20No%206%20Tahun%202018%20tentang%20Juknis%20Kemitraan%20Konservasi.pdf
Untuk perijinan dan konsultasi lebih lanjut dapat dilakukan melalui UPT Kementerian Kehutanan yang membawahi TBMK yaitu Balai Besar KSDA Jabar UP. Bagian kerja sama. Semoga membantu. Salam lestari.
By: kareumbi on 13 Mei 2019
at 1:42 pm
Tambahan fauna : ular phyton (sanca), puyuh gonggong, surili, bekantan, kera ekor kuning, jaralang (sejenis tupai besar), panther (macan kumbang)
By: Budi andriansyah on 6 Desember 2019
at 8:11 am