Pemulihan Populasi Satwa Buru dan Wisata Buru

UPDATE April 2016: Sesuai dengan ruang lingkup pada perjanjian kerja sama BBKSDA dengan Wanadri tahun 2015, Program Pemulihan Populasi Satwa Buru dan Wisata Buru sejak tahun 2016 dimasukkan ke dalam program Model Taman Buru. Namun semua isi yang ada di laman ini masih relevan dan akan diteruskan.

Program Pemulihan Populasi Satwa Buru dan Wisata Buru ini terdiri dari dua buah kegiatan utama yang berkelanjutan dan saling terkait:

  1. Kegiatan Pemulihan Populasi Satwa Buru
  2. Kegiatan Pengembangan Wisata Buru

Perkembangan Kegiatan Pemulihan Populasi Satwa Buru

Tahun 2015

Saat ini kami memiliki 3 lokasi kandang. Yaitu unit kandang umbar seluas 8 hektar, unit kandang karantina 1500 m2, dan unit kandang rumah rusa seluas 3.600 m2.

Pada tahun ini, kualitas lahan umbar 8ha semakin terdegradasi. Rumput unggul grazing area yang sengaja kami tanam yaitu jenis African star grass (Cynodon dactylon) dan rumput BD (Brachiaria decumbens) ternyata tidak cukup memberi makan perut-perut rusa Jawa yang kami pelihara. Bahkan Kaliandra merah (Calliandra callothrysus) juga mulai dimakan kulit batangnya. Demikian juga tanaman lokal seperti Ki Honje yang memang sangat disukai rusa.

Rusa di Kandang Umbar 8 hektar

Tahun ini kami mencoba memasang unit kamera jebak untuk mengamati perilaku satwa di dalam kandang.

Pada awal musim hujan kami berusaha merekondisi lahan rumput dengan eradikasi dan penanaman ulang. Area yang ditanam ulang kami lindungi dengan menggunakan paranet yang ternyata kemudian terbukti tidak efektif karena bisa diterobos rusa. Sehingga akhirnya rumput yang baru ditanam tidak dapat bertahan. Pelajaran yang cukup mahal.

Desain awal kami hitung kandang umbar ini berada pada rasio daya dukung lahan 1:5 (1 hektar untuk 5 ekor rusa), namun akhirnya setelah berjalan satu tahun, kami akan terpaksa me-revisi hitungan tersebut. Dan sejak tengah tahun, pakan untuk kandang umbar mulai kami suplesi dari luar sebanyak 4-5 karung per hari dan terus dilakukan apalagi karena kemarau yang cukup hebat pada akhir tahun ini.

Kondisi di bulan September, kami menambahkan suplesi pakan sebanyak 4 karung rumput dan 3 ikat kaliandra ditambah dedak sebagai pakan penguat. Dengan demikian, perluasan pagar umbar sudah sangat mendesak dilakukan.

Perkembangan populasi pada tahun 2015
Populasi awal: 26 ekor Rusa Jawa

Populasi per 25/09/2015
Rusa Tutul ♀1 ekor yang merupakan mutasi masuk sumbangan dari Bpk. Alfan. Asalnya 4 ekor namun 3 mengalami kematian tidak lama setelah di transportasi, kami perkirakan karena stres perjalanan dan lokasi)
Rusa Jawa: 38 ekor (9, ♀16, anak blm dpt di ident), kelahiran 14 ekor, kematian 2 ekor (1 ekor induk dan 1 ekor anak)

 

Tahun 2014

Awal tahun 2014, tim disibukkan dengan kegiatan translokasi satwa dari Cicurug, Sukabumi yang merupakan hibah/ penyerahan dari ibu Suhardani Bustanil Arifin. Terimakasih ibu, mudah-mudahan rusanya betah, sehat dan beranak pinak di TBMK.

Administrasi hibah penyerahan sukarela serta pembuatan dokumen SAT-DN (Surat Ijin Angkut Satwa – Dalam Negeri) yang cukup membingungkan akhirnya dapat diselesaikan. Dan satwa dengan penuh perjuangan dlakukani translokasi🙂.

Mudah-mudahan kami dapat membuat tulisan mengenai translokasi ini menjadi sebuah artikel tersendiri.

Tim translokasi Kareumbi dan Tim Cicurug.

Kandang umbar (ranching) 8 hektar mulai terpopulasi (dan terdegradasi). Kami menyaksikan bagaimana kualitas hijauan dan lahan terus turun seiring semakin lama populasi rusa berada di dalam kandang umbar tersebut. Ini merupakan pengalaman dan pelajaran yang cukup mengasyikan. Kematian dan kelahiran sudah sulit di deteksi karena luasnya kandang. Yang bisa kita ketahui hanya ketika anak rusa yang baru lahir dibawa keluar oleh induknya, dimana pada saat itu diperkirakan si anak sudah berusia lebih dari 2 minggu. Demikian juga kematian, sulit diketahui kalau tidak ditemukan bangkai/ tulang belulangnya hanya dapat diketahui ketika dilakukan penghitungan.

Keeper juga mulai mengeksplorasi cara menghitung populasi di dalam kandang umbar. Cukup menarik. Selain itu kami juga berupaya meningkatkan kualitas lahan grazing, istilahnya pembinaan habitat, dengan cara menanami beberapa jenis rumput yang disukai rusa dan memusnahkan (eradikasi) gulma penganggu lahan pengangonan seperti teklan dan Salihara (Lantana camara) yang marak didalam kandang umbar. Kegiatan ini cukup menguras waktu dan tenaga (juga biaya tentunya). Akhir 2014 ditutup oleh musim kemarau yang tidak terlalu terasa karena kualitas rumput di grazing area masih cukup baik.

Perkembangan populasi pada tahun 2014
Populasi awal: 7 ekor.
Populasi akhir: 26 ekor Rusa Jawa ♂9, ♀17
Mutasi masuk 22 ekor (eks Cicurug Sukabumi), Kelahiran 3 ekor, Kematian 4 ekor

 

Tahun 2013

Tahun ini merupakan tahun yang sibuk bagi tim di kelompok program Konservasi. Selain harus melakukan kegiatan rutin tanam dan pelihara Wali Pohon, tim juga mempersiapkan pekerjaan perluasan area pemeliharaan rusa.

Pada akhir tahun 2012 diterima kabar mengenai ketersediaan produsen pagar model high-tensile. Setelah berkoordinasi dan memesan spesifikasi yang kami inginkan, akhirnya pada pertengahan Februari 2013, fence roll pun tiba yang segera kami tindaklanjuti dengan percobaan pemasangan.

Gelar Fence Roll

Setelah mengenal dan mengetahui karakter fence high-tensile, beberapa alat harus disesuaikan dan dibuat, metoda pemasangan didiskusikan antar tim dan diujicoba. Berbagai kendala di lapangan seperti lahan yang berbukit dan berlembah, banyak lintasan sungai, tidak boleh menebang pohon yang menghalangi, harus masuk dalam perhitungan dan desain. Masalah lain adalah semua yang terlibat belum pernah melakukan pemasangan pagar model ini sebelumnya. Bahkan boleh dikatakan pagar model ini adalah yang pertama dipasang di Indonesia karena produsennya pun baru saja memulai produksi pada 2013 awal dengan orientasi ekspor. Karena penggunaan fixed knot yang lebih ekonomis, setelah dihitung ulang, dengan budget chainlink untuk 5 ha dan beberapa modifikasi bahan, kami dapat melakukan instalasi seluas 8 ha.

Komparasi Chainlink dengan Hightensile Fixed Knot

Selain pekerjaan perluasan pagar, pada tahun 2013 juga dilakukan perbaikan habitat di dalam area kandang, diantaranya eradikasi dan pemusnahan tanaman perintis eksotis tidak dimakan satwa rusa seperi Salihara (Lantana camara) dan Kirinyuh, pengkayaan rumput dan penanaman beberapa tanaman penghasil buah-buahan yang dapat dimakan rusa serta pemeliharaan tegakan termakan Rusa yang telah ada.

Selain itu dilakukan juga renovasi Rumah Rusa dan pembangunan Perkampungan Rusa/ Mess staf. Diantaranya yang dibangun adalah kamar mandor, kamar keeper, dan saung panenjoan. Juga dibuat taman kelinci (free range) dan kandang karantina untuk rusa.

Pembangunan Kampung Rusa

Akhirnya pada akhir tahun, confinement area rusa seluas ±8ha dengan keliling sepanjang 1.000 meter selesai dikerjakan dan dapat mulai difungsikan pada awal 2014.

Perkembangan populasi, pada 3 Juli dan 29 September 2013, masing-masing terjadi satu kelahiran rusa Timor. Satu anak lagi yang lahir ditemukan tidak selamat.

Populasi awal:5 ekor. Populasi akhir: 7 ekor (kelahiran 3 ekor, kematian 1 ekor).

 

Tahun 2012

Pada sisi perkembangan populasi rusa,  ada kelahiran 1 ekor. Karena kelahiran pada bulan Oktober, maka dinamai Okto. Sedangkan kematian berjumlah 1 ekor pada 5/12/2012. Dimana yang mati ini adalah Jantan anak kelahiran 15/02/2011. Selain itu juga ada kejadian dimana seorang keeper (Abah Endang) diseruduk oleh rusa Jantan (Dayu) yang berakibat Abah Endang tersungkur masuk ke parit dan mengalami dislokasi bahu. Akhirnya keeper tidak dapat bekerja dan karena sudah sepuh akhirnya digantikan oleh tenaga keeper yang lebih muda berasal dari warga sekitar. Keeper baru berarti perlu belajar lagi.

Pada 2012 akhir dimulai instalasi perluasan pagar rusa. Kami membutuhkan area kandang yang lebih luas untuk dapat menjalankan breeding dengan starting populasi yang lebih banyak. Luasan awal yang didesain dan disesuaikan dengan ketersediaan budget seluas adalah 5 hektar.

Percobaan awal menggunakan pagar model chainlink fence karena hanya model inilah yang tersedia di pasaran lokal pada saat itu. Setelah barang tersedia, kami melakukan percobaan ereksi pagar sepanjang 100 meter. Spek yang digunakan adalah chainlink fence soft wire tinggi 220cm, mesh 5cm, dan diameter kawat 14 ga.

Testing Pemasangan Chainlink Fence di Kareumbi

Spek dan cara pemasangan pagar berdasarkan riset yang dilakukan sebelumnya. Riset mencakup hal-hal seperti teknik pemasangan, komponen dan disain tiang, jarak antar tiang, sistem alat penarik, fastener, mounting dan sebagainya. Sedangkan spek tiang mengikuti pekerjaan yang sebelumnya dilakukan dengan dilakukan beberapa modifikasi dengan tujuan perbaikan desain ditinjau baik dari segi fungsi maupun biaya. Setelah dilakukan percobaan akhirnya didapatkan formula yang pas untuk bisa diujicoba pada skala yang lebih luas.

Namun pada akhir 2012 diterima berita yang membuat semua perencanaan dihitung ulang. Yaitu berita tentang pabrikan besar yang baru saja membuka line produksi di Indonesia untuk pagar model high-tensile wire fence. Karena pada tahun 2010 kami telah mencoba membuat replika pagar model ini namun pembuatannya dilakukan secara manual, sehingga kami sangat tertarik untuk mencoba memasang yang dibuat dengan fabrikasi. Selain itu, pagar model ini memang sudah di incar sejak lama karena banyak digunakan di luar negeri sebagai game fencing. Akhirnya setelah berkoordinasi dengan pihak produsen, kami bisa mendapatkan order sample sepanjang 100 meter dengan spesifikasi wire spacing yang sesuai dengan yang kami butuhkan.

Sambil menunggu produksi sample yang bisa diujicoba, kami melakukan redesain. Hampir semua peralatan untuk mendukung pemasangan pagar ini dibuat manual dan harus di desain ulang karena sebelumnya kami akan menginstall chainlink fence. Untungnya spesifikasi tiang-tiang yang digunakan relatif tidak berubah. Akhirnya awal 2013 fence roll high tensile tiba dan bisa mulai kami ujicoba pasang.

Populasi Awal: 5 ekor Timor. Populasi Akhir: 5 ekor Timor (kelahiran 1 ekor, kematian 1 ekor).

 

Tahun 2011

Tahun ini diwarnai beberapa dinamika, diantaranya mengenai kedatangan Rusa Timor dan Rusa Tutul yang tidak diperkenankan berada di dalam kawasan konservasi. Sehingga akhirnya rusa Tutul sumbangan pihak PTPN pun ditarik keluar oleh pihak BBKSDA. Dan akhirnya satu plot kandang kosong.

Pada tanggal 3 Januari 2010, atas kerjasama dengan BBKSDA dan Perhutani, dilakukan translokasi Rusa Timor (Cervus timorensis) dari kawasan wisata Perhutani di kaki gunung Sawal, Desa Darmacaang. Rusa Timor yang datang berjumlah 4 ekor. Rusa datang dengan menggunakan mobil operasional Land Rover dan trailer dan dikawal oleh kang Feby Nugraha.

Kedatangan Rusa Timor (3/1/2011)

Populasi yang datang adalah 2 ekor betina dan 2 ekor jantan muda. Kondisi saat datang tidak sehat benar, pengamatan menunjukan malnutrisi dan banyak rambut di badannya yang pitak.  Namun demikian ternyata satu ekor dalam kondisi hamil. Sehingga tidak lama kemudian pada 15 Februari 2011 lahir satu ekor anak berkelamin jantan (anak ini kemudian ditemukan mati pada 5/12/2012).

Rusa Timor (4/1/2011)

Pada tanggal 20 November 2011 terjadi kehilangan satu ekor Rusa Jantan. Rusa ini diperkirakan hilang karena dicuri, ditandai dengan jejak darah dan kawat pagar yang putus serta kondisi rusa yang panik. Pengamanan di lokasi memang kurang ketat, masalah klasik yang disebabkan oleh kurangnya personil.

Pada tanggal 18 Desember 2011, lahir satu anak. Karena bertepatan dengan diadakannya Jamboree MTB Indonesia di Kareumbi, maka rusa jantan kecil kelahiran Kareumbi ini diberi nama Jamboree. Di kemudian hari, mudah-mudahan Jamboree akan jadi pejantan tangguh🙂.

Jamboree dan Induknya (18/12/2011)

Populasi awal: 6 ekor Tutul,

Populasi Akhir 2011: 5 ekor Timorensis, kelahiran 2 ekor, kehilangan 1 ekor, mutasi keluar 6 ekor tutul, dimana 1 ekor jantan berhasil kabur pada saat akan ditangkap dan belum ditemukan.

 

Tahun 2009-2010

Sampai akhir tahun 2009 yang telah dilakukan oleh Tim Manajemen adalah bekerja sama dengan Manglayang Farm untuk melakukan percobaan pemeliharaan Rusa di dalam kawasan. Pada awal tahun 2010 telah dirintis kerjasama dengan pihak Kebun Binatang Bandung untuk melakukan pengawasan kesehatan satwa dan penyegaran darah baru.

Jumlah satwa yang ditangkarkan pada akhir 2009 adalah 6 ekor Rusa Tutul (Axis axis).

Sebelumnya terdapat rusa Bawean yang merupakan sumbangan dari pihak donatur, totalnya berjumlah 4 ekor betina. Namun sayangnya 2 ekor mengalami kematian tidak lama setelah dilakukan transportasi ke lokasi. Disimpulkan kematian disebabkan oleh tingkat stres dan luka saat dilakukan penangkapan dan transportasi. 1 betina teridentifikasi mengalami patah kaki, dan 1 lagi memiliki luka yang tidak kunjung sembuh di keningnya karena menabrak pagar.
Sedangkan satu ekor betina ditukarkan dengan jantan dari Kebun Binatang Bandung sehingga populasi yang ada di kandang sejumlah 1 ekor betina (berusia ± 1 tahun) dan jantan usia ±1.5 tahun.
Malang tak dapat ditolak, dalam perjalanannya kedua ekor rusa Bawean tersebut tidak dapat survive. Keduanya mati dalam waktu yang tidak berselang terlalu jauh pada bulan Mei 2010. Kesimpulan dari identifikasi yang dilakukan, kematian disebabkan oleh penyakit bloat (kembung) yang akut. Bloat diperkirakan terjadi karena kondisi cuaca yang hujan lebat terus menerus yang terjadi sepanjang Januari – Mei 2010, bahkan hujan masih ada sampai bulan Juli.
Untuk sementara diambil kesimpulan bahwa rusa Bawean kurang cocok dengan situasi dan kondisi alam di Kareumbi.

Rusa Tutul merupakan sumbangan dari PTPN VIII kebun Kertasari, Pangalengan. Jumlah awalnya yang masuk ke kandang (26/2/2009) adalah sebanyak 6 ekor, terdiri dari 2 jantan (1 jantan dewasa, 1 jantan anak) dan 4 ekor betina.
Pada tanggal 25/7/2009 satu ekor jantan besar (Si Bujang) diidentifikasi sakit dan setelah dilakukan perawatan dan didampingi secara intensif namun kondisinya tidak kunjung membaik dan akhirnya terpaksa dipotong paksa.
Setelah dilakukan pemeriksaan didapati selembar kantong plastik didalam usus besarnya yang diperkirakan adalah bekas wadah minuman ringan. Nampaknya plastik ini termakan dari pengunjung yang membawa wadah minuman ke dekat kandang.

Tidak lama setelah itu 1 ekor betina kembali ditemukan sudah mati. Ketika diperiksa ditemukan adanya indikasi kesulitan melahirkan karena rusa yang bersangkutan memiliki bayi yang sudah berada di jalan lahir. Paru-paru rusa tersebut tampak membengkak dan diperkirakan mati akibat kesulitan bernapas.

Pada tanggal 5 Juli 2009, satu ekor betina tutul melahirkan anak betina. Kurang lebih satu bulan kemudian pada tanggal 11 Agustus 2009 kembali lahir satu ekor anak berkelamin jantan. Sehingga jumlah total adalah tetap 6 ekor.

Pada 2010 telah dibangun dua area perkandangan, 1 kandang berukuran 1200 m2 digunakan untuk kandang Rusa Bawean dan area lain berukuran sekitar 3000 m2 digunakan untuk Rusa Tutul.
Sistem pemeliharaan adalah semi intensif dengan pakan utama di dalam kandang berupa rumput introduksi yaitu African star grass (Cynodon nlemfuensis), Setaria (Setaria sphacelata) dan rumput lapang. Sedangkan pakan tambahan berupa berbagai daun-daun pohon yang disukai  seperti Kaliandra, Ki Honje dan pakan ekstra seperti ubi, wortel dan dedak.

Populasi Awal: 0, Populasi akhir 2010: 6 ekor Rusa Tutul.


Pengembangan Wisata Buru

Sampai tahun 2013, kegiatan wisata buru praktis belum dapat dilaksanakan. Kegiatan masih difokuskan pada pemulihan populasi rusa dan restorasi habitat.
Namun demikian, kegiatan-kegiatan perintisan ke arah wisata buru tetap dilakukan bersama dengan kegiatan-kegiatan lain, diantaranya:

  1. Penjajagan komunitas berburu, diantaranya pemburu yang tergabung dalam organisasi olahraga nasional, komunitas dan hobiis, dan terutama terhadap para pemburu tradisional.
  2. Exercise Konsep dan Perencanaan: survey populasi, identifikasi flora dan tanaman pakan satwa, perancangan blok dan klaster buru, modelling sarana dan prasarana buru, konsep kampung wisata, konsep hunting & shooting game.
  3. Membentuk Kareumbi Shooting & Hunting Club
  4. Ujicoba habituasi satwa babi hutan di area free range.
  5. Studi literatur dan diskusi, referensi satwa rusa, babi hutan, bidang aturan perburuan, referensi manajemen game reserve, diskusi ahli kehutanan dan satwa liar, veteriner, biologi, pemerhati lingkungan, pegiat buru senior.
  6. Sosialisasi TBMK di kalangan komunitas pemburu dan organisasi Perbakin, pegiat lingkungan, kepolisian dan stakeholder terkait lainnya.

 

EOF - pemulihan populasi satwa buru dan wisata buru. 
update 20100608 00:18, last update 20160427 14:03 | echo

Responses

  1. […] Tulisan ini diambil dari sini […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: