Oleh: kareumbi | 24 Juni 2020

Basecamp TBMK masih TERTUTUP

Dalam rangka antisipasi penyebaran Covid-19 di tempat umum, maka kami masih menutup kunjungan untuk tamu yang akan berkunjung ke Basecamp TB. Masigit Kareumbi melalui pintu Kp. Leuwiliang. Ds. Tanjungwangi, Kec. Cicalengka. Penutupan ini berlaku untuk seluruh kunjungan, kecuali pelajar/ mahasiswa yang akan melakukan penelitian/ tugas akhir dan kegiatan konservasi (mis. penanaman pohon, pembibitan dan pemulihan populasi rusa, dsb).

Penutupan dilakukan sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan terima kasih.

Oleh: kareumbi | 23 September 2020

Suaka Merak TBMK

Javan Green Peafowl (Pavo muticus) Aviary

Hallo sahabat TBMK!

Kami sedang ikhtiar memasang instalasi kandang yang akan digunakan sebagai suaka merak hijau jawa di TBMK. Do’akan lancar ya 🙂

Ikuti proses yang berjalan di laman Instalasi Aviary Merak TBMK.

Program tanam dan pelihara Wali Pohon Masigit Kareumbi musim tanam 2019-2020 telah selesai dilaksanakan. Dengan demikian, kita akan mulai kembali musim tanam yang baru pada sekitar November-Desember 2020 yang akan datang.

Pada musim tanam yang baru kita lalui ini, kami telah menanam 3.999 pohon dengan pengadopsi tercatat atasnama:

  1. WALI INDIVIDU 13 (514 pohon, 170 individu)
  2. PT BIO FARMA (Persero) 2
  3. KU LARI KE HUTAN 2019
  4. SKMK 2019
  5. SEKAR TELKOM 8
  6. 1143 ALUMNI ITB 1974

Terimakasih kepada para pengadopsi. Semoga pohon yang disumbangkan untuk kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi dapat terus tumbuh dan menambah area tutupan hutan. Pada bulan Juni dan Juli lalu, kami telah menyelenggarakan pemeliharaan awal setelah tanam untuk plot-plot diatas serta pemeliharaan bagi plot-plot yang masih dalam masa garansi.

Terdapat 24 plot yang telah dilakukan pemeliharaan I pada tahun ini diantaranya adalah:

  1. WALI INDIVIDU 11
  2. PT JOJONOMIC INDONESIA
  3. WIJAYA KUSUMA DAN KUSUMA WARDHANI (WKKW)
  4. FISS UNPAS
  5. FE UNOAD ANGK 79 (FETS)
  6. SMA NEGERI V BANDUNG ANG 79
  7. ALPERCIK 68-74
  8. ITB KLITONGERS
  9. KDD ITB
  10. YAYASAN AL-MASOEM BANDUNG
  11. WALI INDIVIDU 12
  12. ABDULLAH FADRIANSYAH
  13. NU’EST BAEKHO
  14. PT BIO FARMA (Persero)
  15. PLN PURHALIS 2
  16. STIE EKUITAS 2
  17. PT JOJONOMIC INDONESIA 2
  18. PT BIO FARMA (Persero) 2
  19. YAYASAN DANAMON PEDULI
  20. YUASA BATTERY
  21. AHEMCE MOUNTAINEERS
  22. BANK BJB
  23. GLOBAL SHAPERS BANDUNG HUB
  24. ACINTYA PANKA-RAWA LAUT

Pemeliharaan I dilakukan untuk membersihkan jalur tanam agar mudah dipantau dan bibi pohon tidak mengalami naungan, membersihkan sekitar pokok dan batang pohon dari gulma, menggemburkan tanah di sekitar batang, serta memberikan mulsa berupa gemburan tanah ataupun sisa gulma yang didangir sebagai pupuk hijau untuk menjaga kelembaban dalam menghadapi musing kemarau.

Setelah itu kemudian disusul dengan masa pemeliharaan tengah tahun atau pemeliharaan II pada Agustus – September untuk tanaman yang telah ditanam tahun sebelumnya. Dan menjelang musim hujan kita lakukan pemeliharaan sekaligus sensus untuk persiapan sulam pada musim tanam 2020-2021.

Untuk melihat foto perkembangan pohon dapat mengakses album foto melalui website walipohon. Klik tautan Galeri Pohon dan pilih album foto sesuai nama plot tanam anda.

Bagi anda yang ingin berpartisipasi mengadopsi pohon di TB. Masigit Kareumbi melalui program Wali Pohon, dipersilahkan mendaftarkan diri untuk musim tanam 2020-2021 yang akan datang melalui tautan program konservasi TBMK. Juga dapat menghubungi kami untuk informasi lebih lanjut.

Zoominar akan membahas topik yang sangat menarik yaitu perilaku rusa dan preparasi daging karkas. Dua pembicara yang akan tampil adalah Sophie Littlewood (Déercor) dan Chris Brooks (British Deer Society, Head of Training and Quercus Deer Services).

Sophie dengan pengalaman dan passionnya tentang berbagai jenis rusa di dunia, akan membicarakan tentang perilaku rusa. Sophie juga memiliki toko online yang menjual berbagai pernak-pernik terkait dengan rusa. Sangat menarik. She’s a deer girl!

Materi Field gralloch atau dalam bahasa Indonesia bisa diartikan preparasi hasil berburu akan dibawakan oleh Chris Brooks. Ini adalah aktifitas ketika satwa buruan sudah berhasil dibunuh/ditangkap dan kemudian pemburu mengeluarkan atau memisahkan isi perutnya (jerohan) agar karkas mudah dilakukan mobilisasi atau transportasi. Perlakukan ini lazimnya dilakukan segera setelah perburuan untuk menghindari tercemarnya daging oleh cairan tubuh satwa yang bisa menyebabkan pembusukan.

Pemantik diskusi kali ini adalah kang Tiar Mukti dari Lembah Paniisan Deer Farm yang saat ini sedang berada di Qatar selaku koordinator dari KPPRI (Kelompok Pemerhati dan Praktisi Rusa Indonesia).

Presentasi dipaparkan dalam bahasa Inggris dan akan di terjemahkan secara wrapped-up oleh Moderator.

Registrasi https://bit.ly/lembah

Kapan?

Kamis, 20 Agustus 2020

14:00 – 16.00 Bandung (WIB)
10.00 – 12.00 QATAR
08.00 – 10.00 UK

Materi Presentasi

Chris Brooks field-gralloch-and-carcase-prep

Video Archive

(Sorry, its private)

Live 20/08/2020 14.00 WIB

Oleh: kareumbi | 5 Agustus 2020

Webinar KPPRI – TBMK

Fungsi Taman Buru sebagai bagian konservasi Rusa di Indonesia

Arahan Umum: Direktur Kawasan Konservasi, DITJEN KSDAE Ir. Dyah Murtiningsih, M.Hum

Sambutan: Kepala BBKSDA Jabar, Ir. Ammy Nurwati M.M

Pembicara Tamu: Ketua PKBSI, Profesional hunter for conservation, DR. H. Rahmat Shah

Pembicara Tamu: WakaBid Berburu PB Perbakin, Dosen FE UI, Dr. Ir. Ignatius Heruwasto

Pembicara Utama: Manajer TBMK, Echo

Moderator: Koordinator KPPRI, Tiar Mukti

Kamis, 6 Agustus 2020, 13.00 – 15.00 WIB via Zoom meeting

Registrasi di: https://bit.ly/WebinarTBMK

LIVE STREAM via TBMK Channel

Materi Narasumber:

Oleh: kareumbi | 17 Juli 2020

Kareumbi Grazing Field

Rusa timorensis di grazing area plot 8ha

Dalam 2.5 tahun ini secara bertahap (baca: perlahan) tim di lapangan berupaya membuat padang rumput (grazing field) di salah satu plot pemeliharaan rusa, yaitu di plot yang kami sebut 8 hektar. Luas area rumputnya saja adalah sekitar 2 hektar. Ya hanya 2 hektar yang bisa dibuat padang rumput karena lokasinya relatif terbuka sementara, yang lainnya berada di bawah kanopi hutan.

Upaya ini dimulai eradikasi gulma, pembuatan demplot 2500m2, penanaman rumput lapang yang disukai rusa serta yang paling menyita waktu (dan kocek) tentu adalah pemeliharaan dan penyulaman rumput.

2017-12-14 eradikasi gulma di plot 8ha DIMULAI. Mayoritas gulma eksotis dan invasi terdiri dari Clidemia hirta dan Eupatorium riparium

Gulma-gulma eksotis nan invasif ini setelah dibabat dan dicabut tetap kembali bertumbuh, beberapa literatur bahkan menyebutkan perlu waktu nyaris 10 tahun untuk dapat membersihkan gulma tersebut secara total.

2020-01-02 proses penanaman rumput bagian akhir di awal tahun ini.
2020-07-16, kondisi terkini plot grazing area

Pada hari Rabu 15 Juli 2020 kemarin secara praktis (bukan resmi, karena tidak ada peresmian apa-apa) plot rumput ini mulai dibuka dan pintu rusa mulai masuk. Selain dianggap plot telah cukup siap (70% kapasitas produksi rumput), musim kemarau mulai masuk puncak, sementara itu kondisi rumput di plot 28ha dan 9ha sudah relatif terdegradasi.

Di lokasi ini juga ingin dipasang ranggong untuk pengamatan dan penghitungan populasi. Mari kita lihat, berapa lama plot rumput ini bertahan, dan bagian mana yang akan terdegradasi lebih dahulu. Sebelum itu terjadi tentu harus dilakukan penutupan/rotasi.

Oleh: kareumbi | 7 Juli 2020

Gagak dan Bangkai Rusa

Gagak hutan (Corvus enca) adalah burung yang istimewa. Penelitian mengungkap bahwa gagak adalah burung yang pintar. Disebutkan gagak memiliki volume otak yang besar dibandingkan ukuran tubuhnya. Bahkan dibandingkan dengan burung atau satwa lain. Gagak tertangkap kamera dapat membuat dan menggunakan (juga mencuri haha) alat bantu untuk menyelesaikan masalah. Burung gagak juga disebutkan dalam kitab suci umat Islam. Footage ini memperlihatkan burung gagak yang sedang hinggap di atas bangkai rusa timorensis, dan terlihat mematuki sesuatu. Di TB. Masigit Kareumbi masih terpantau beberapa kelompok burung gagak yang sering terlihat terbang di sekitar basecamp. Mari kita jaga dan lestarikan mereka.

Oleh: kareumbi | 23 Mei 2020

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1441H

Taqabbalallaahi minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin.
Semoga kita semua dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya. Aamiin ya rabbal’alamin.

Coronavirus (sumber cdc)

Kementerian Lingkungan Hidup dalam hal ini Ditjen KSDAE sebagai national focal point kesehatan satwa liar yang mempunyai tanggung jawab bersama 3 kementerian lain (Kemenko PMK, Kementan dan Kemenkes) untuk mencegah, menanggulangi, dan berbagi informasi kesehatan terutama penyakit zoonotik dan penyakit infeksi baru (PIB) termasuk Coronavirus dengan pendekatan One Health (kesehatan manusia, hewan dan lingkungan) dalam suratnya menyampaikan beberapa hal sbb:

  1. Menyebarkan informasi dan kewaspadaan kepada Novel Coronavirus kepada masyarakat sekitar kawasan konservasi;
  2. Mengintensifkan dan mengefektifkan patroli perdagangan ilegal satwa liar baik yang hidup ataupun yang mati beserta derivatnya untuk mencegah dampak dari Novel Coronavirus ini;
  3. Melakukan sosialisasi tentang dampak penyakit yang disebabkan konsumsi satwa lair terhadap penjual di pasar-pasar yang disinyalir sebagai tempat jualan satwa liar untuk dikonsumsi;
  4. Melaporkan jika ada kasus kematian satwa liar yang tidak wajar baik di in-situ dan eks-situ melalui surat resmi dan ke dalam aplikasi Sistem Pelaporan Kesehatan Satwa Liar SehatSatli (sehatsatli.menlhk.go.id) jika sudah terdaftar;
  5. Agar mendukung langkah-langkah yang diambil dinas kesehatan setempat dan akan terus melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan instansi lainnya terkait dengan penyakit pneumonia ini dan penyakit lainnya terutama yang bersifat zoonoticc dengan pendekatan One Health (kesehatan manusia, hewan dan lingkungan).

Untuk lebih meningkatkan kewaspadaan tersebut, arahan dari Balai Besar KSDA Jawa Barat terhadap para pemegang IUPSWA dan pengelola kawasan Taman Wisata Alam dan Taman Buru untuk melakukan kegiatan sebagai berikut:

  1. Mengintensifkan dan mengefektifkan penggunaan alat pemeriksaan suhu badan kepada seluruh tamu/pengunjung dan masyarakat penyedia jasa wisata setempat di pintu masuk dengan tetap menjaga kenyamanan dan ketertiban.
  2. Menyediakan akses sarana cuci tangan berupa air mengalir dan sabun atau hand sanitizer di tempat-tempat umum seperti pintu masuk, toilet, gedung serbaguna, tangga dan lain-lain.
  3. Membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan usaha yang meliputi:
    – Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau hand sanitizer secara rutin.
    – Batasi menyentuh wajah (hidung, mulut dan mata) sebelum mencuci tangan.
    – Terapkan etika batuk (tutup hidung dan mulut dengan tissue atau lengan atas bagian dalam)
    – Gunakan masker jika batuk/flu
    – Biasakan dalam memberi atau menerima salam tidak melakukan kontak fisik secara langsung.
    – Senantiasa menjaga jarak dengan orang yang sedang demam/ batuk/ bersin minimal 1.5 meter
  4. Menghimbau kepada seluruh pegawa, penyedia jasa wisata dan pengunjung yang sedang batuk/ pilek untuk menggunakan masker.
  5. Melakukan penyemprotan desinfektan pada sarana-prasarana dan bangunan secara berkala.
  6. Menjaga area pengusahaan dan fasilitas bersama tetap bersih.
  7. Menyediakan petugas medis di lokasi area usaha dan senantiasa proaktif melakukan pencegahan Novel Coronavirus.
  8. Menyebarkan informasi dan kewaspadaan terhadap Novel Coronavirus kepada pengunjung dan masyarakat sekitar kawasan konservasi.
  9. Memasang pesan-pesan kesehatan di tempat-tempat strategis di area usaha dan memperbanyak serta menyebarluaskan informasi pencegahan penyebaran Novel Coronavirus di saluran/media komunikasi.

Oleh: imbangperdanasair | 9 Maret 2020

Pagar rusa kareumbi rusak tertimpa pohon tumbang

Senin 9 maret tim manajemen Taman Buru Masigit Kareumbi di Bandung mendapat kabar dari tim patroli lapangan bahwa sejumlah pagar pembatas area rusa rusak tertimpa dahan pohon Rasamala (Altingia Excelsa), “diperkirakan kejadian antara subuh hingga pagi hari tadi, soalnya anginnya sangat kencang” begitu isi laporan dalam PersonalChat salah seorang anggota tim dilapangan yang juga mengirimkan beberapa foto dokumentasi pagar rusak yang sementara di benahi.

diperkirakan panjang pagar yang rusak sekitar 10 – 15 meter, tim segera melakukan perbaikan agar rusa tidak lepas keluar dari area pemeliharaan, sejauh ini, menurut pantauan tim dilapangan belum ada tanda-tanda jejak rusa melintasi area pagar yang terbuka ini. ukuran dahan yang tumbang bervariasi, ada yang berdiameter kurang dari 10 cm dan ada juga yang berukuran antara 15 – 30 cm cukup untuk merobohkan pagar rata dengan tanah.

kejadian serupa juga pernah terjadi pada januari tahun 2018 lalu, juga terjadi pada area yang sama di segmen 28 hektar.https://kareumbi.wordpress.com/2018/01/22/pagar-rusa-tbmk-tertimpa-batang-pohon, jumlah kerusakan pagar juga tidak jauh berbeda dengan tahun itu. Beruntung model pagar Fixed-knot (high tensile fabricated woven) cukup mudah pengaplikasian dan penggunaanya, dalam sistem pagar yang digunakan di kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi ini menutup seluas 45 hektar kawasan atau panjang sekitar 3 kilometer, sehingga dapat dengan cepat di perbaiki tanpa alat khusus dan hanya mengunakan sejumlah alat perkakas biasa seperti tang dan pemotong kawat.

meskipun begitu masalah maintanance dan sistem monitoring pagar masih menjadi masalah yang serius dan perlu dipikirkan, karena berhubungan langsung dengan ekosistem yang sedang di kembangkan dan di jaga di dalam kawasan konservasi ini, seperti bahaya predator pemangsa rusa, Macan tutul “Panthera Pardus Melas” yang belum diharapkan beriteraksi langsung dengan rusa timor (Cervus Timorensis) sebagai suatu sistem rantai makanan karena jumlah populasinya belum cukup ideal untuk dilepas liarkan, begitu juga dengan tekanan kawasan dari luar, seperti masyarakat pencari kayu hutan dan rotan yang tidak bisa di kendalikan intensitasnya sehingga di takutkan akan menjadi sumber masalah baik bagi kawasan maupun untuk keamanan dirinya sendiri dari predator hutan tadi meskipun sejauh ini belum ada catatan peristiwa konflik antara macan dan manusia.

ranting dan dahan menimpa pagar rusa

melihat kasus serupa mengenai pagar ini selama beberapa tahun kebelakang, tentu saja tim manajemen tidak tinggal diam, perencanaan dan perancangan sistem pemagaran yang lebih baik dilakukan, tidak hanya sistem monitoring tetapi juga sistem maintanance dan pengendalian terhadap ancaman pagar baik dari pohon yang akan rubuh menimpa pagar, manusia dan juga binatang yang berpotensi merusak pagar dilakukan. namun tentu saja tidak semudah itu, selain pemilihan teknologi yang tepat, sumber daya manusia dan juga tetunya masalah pendanaan yang pasti akan sangat memakan biaya yang cukup besar.

Dengan program wali fauna, tim manajemen TBMK membuka seluas-luasnya ruang bagi masnyarakat baik itu individu atau kelompok untuk ikut bersama-sama menjaga dan melindungi ekosistem di dalam kawasan konservasi ini, baik itu tenaga, ide atau fikiran atau berdonasi untuk membantu biaya pelindungan dan pemeliharaan kawasan dengan menghubungi manajemen pengelola kawasan konservasi taman buru masigit kareumbi.

write by: Imbang perdana S

Older Posts »

Kategori