Oleh: kareumbi | 22 November 2009

Wali Pohon 2009 – 2010

Musim hujan sudah tiba, beberapa hari ini wilayah Bandung dan sekitarnya termasuk di sekitar basecamp “KW” Kareumbi hujan turun terus menerus dengan intensitas yang cukup tinggi. Oleh karena itu sejak beberapa hari yang lalu kami sudah mulai sibuk melakukan penyulaman untuk mengganti pohon-pohon yang mengalami kematian pada musim Wali Pohon 2008 – 2009 yang lalu.

Sebagai informasi berdasarkan hasil sensus terakhir pada bulan Oktober 2009, tingkat kematian pada penanaman tahun lalu adalah sekira 16%. Ini adalah nilai rata-rata karena di beberapa plot lahan, tingkat kematian ternyata cukup tinggi sampai 40%. Penyebab kematian antara lain kekeringan, cara penanaman yang kurang tepat, kondisi lahan yang tidak menunjang dan serangan hama babi hutan.

Penanaman pohon dalam program Wali Pohon 2009 – 2010 sedianya akan dimulai pada tanggal 28 November 2009, bersamaan dengan Hari Menanam Pohon Indonesia. Dan sampai saat ini sudah sekitar 600 pohon yang telah terdaftar baik dari wali institusi maupun perorangan.

Dan karena masa penanaman diperkirakan hanya berlangsung sampai bulan Februari atau Maret 2010, bersama ini kami mengajak ANDA semua untuk turut bergabung dan berpartisipasi memberikan sumbangan pada bumi pertiwi. Mari dukung program One Man One Tree, tanam dan pelihara bersama Wali Pohon Masigit Kareumbi.

Untuk informasi lebih lanjut dan bagaimana caranya anda dapat membantu melestarikan hutan dan lahan silahkan klik disini.

Oleh: kareumbi | 21 April 2009

Beunteur

oleh: sentanu at gmail dot com

Beunteur

Puntius binotatus (Valenciennes, 1842)

Common barb

Gambar Beunteur, Puntius binotatus dari buku The fresh-water fishes of north Borneo, zoology volume 45, Chicago natural histories museum, march 7, 1962

Beunteur adalah salah satu ikan asli dari perairan tawar di Jawa Barat, sudah terindentifikasi sejak tahun 1892 di Pangrango, dan tahun 1899 di sungai Cimanuk Garut (Fishbase). Hingga saat ini Beunteur masih banyak ditemukan di sungai di Jawa Barat, mulai dari hilir sungai di pesisir , hingga hulu sungai di atas gunung dengan ketinggian lebih dari 1500 meter yang dingin.

Ikan beunteur bisa ditemukan di bawah air terjun dengan arus yang bergolak, atau juga di sungai yang lebar dengan arus yang tenang.  Ditemukan di permukaan tetapi sebenarnya Beunteur adalah ikan air tawar benthopelagic yang mencari makanan di dasar sungai yang banyak menyediakan makanan berupa zooplankton, dan larva serangga. Beunteur tidak melakukan migrasi dalam siklus hidupnya, bisa hidup menetap untuk tumbuh dan berkembang pada habitat yang tetap. Ukuran maksimum yang pernah ditemukan adalah 20 cm SL, di sungai kapuas Kalimanatan, dan ukuran yang umum di Kareumbi adalah 5 cm SL.

Beunteur memiliki rasa yang enak, tetapi memeliki pancreas yang sangat pahit, oleh karena itu wajar jika orang Filipina menyebutnya sebagai ikan Pait (tagalog). Ikan beunteur tersebar di negara asia tengggara, jarang diperdagangkan, dan orang Eropa tidak banyak tahu tentang ikan ini dan secara praktis mereka sebut sebagai common barb, atau ikan biasa-biasa saja.

Taksonomi

Kingdom          Animalia  — Animal, animals, animaux
Phylum             Chordata  — chordates, cordado, cordés
Subphylum       Vertebrata  — vertebrado, vertebrates, vertébrés
Superclass        Osteichthyes  — bony fishes, osteíceto, peixe ósseo, poissons osseux
Class                Actinopterygii  — poisson épineux, poissons à nageoires rayonnées, ray-finned fishes, spiny rayed fishes
Subclass           Neopterygii  — neopterygians
Infraclass          Teleostei
Superorder       Ostariophysi
Order               Cypriniformes  — cyprins, meuniers, minnows, suckers
Superfamily      Cyprinoidea
Family              Cyprinidae  — carpas, carpas y carpitas, carpes, carpes et ménés, carpitas, carps, carps and minnows, ménés, minnows
Genus               Puntius Hamilton, 1822 — spotted barbs
Species            Puntius binotatus (Valenciennes in Cuvier and Valenciennes, 1842) — spotted barb

Gambar artis Ikan Beunteur dari sungai Mekong, Kamboja

Gambar artis Ikan Beunteur dari sungai Mekong, Kamboja

Ikan Beunteur dalam akuarium di Bali

Ikan Beunteur dalam akuarium di Bali

Ikan Beunteur dari perairan Laos

Ikan Beunteur dari perairan Laos

Oleh: kareumbi | 16 April 2009

Taman Anggrek Hutan

Coelogyne speciosa (image courtesy Jay Pfahl, orchidspecies.com)

Coelogyne speciosa (image courtesy Jay Pfahl, orchidspecies.com)

Melihat anggrek di pameran flora atau nursery? tentu sudah biasa. Namun melihat beragam anggrek spesies yang berbunga dan menempel di hutan dan pohon besar  seperti rasamala, puspa dan pinus, menemani perjalanan hiking anda ke berbagai lokasi di kawasan? tentu cukup luar biasa.

Data dari World Conservation Monitoring Center (1995) menunujukkan bahwa jika dibandingkan dengan jenis tumbuhan asli Indonesia yang berstatus terancam lainnya maka anggrek merupakan tumbuhan yang menerima ancaman kepunahan tertinggi yaitu sebanyak 203 jenis (39%).

Menurut J.B Comber (1990), di Jawa terdapat kurang lebih 731 jenis anggrek dan 231 jenis diantaranya dinyatakan endemik. Dan Jawa Barat memiliki kekayaan anggrek paling banyak  yaitu sejumlah 642 jenis. Di Jawa Timur terdapat 390 jenis sedangkan di Jawa Tengah hanya 295 jenis. Dilihat dari habitat tumbuhnya maka dataran tinggi dengan ketinggian 500 m –1500 m merupakan tempat yang cocok untuk anggrek karena keragaman jenis anggreknya lebih banyak dibanding di dataran rendah.

Selain itu, berdasarkan perbincangan dengan warga, ternyata telah sejak lama perburuan anggrek dilakukan oleh masyarakat di dalam kawasan. Ada kalangan pemburu hobi, ada yang memang profesional. Sebagian untuk pajangan di halaman rumah, namun kebanyakan untuk dijual kembali ke berbagai daerah. Bila tidak terkendali, tentu lama-kelamaan akan banyak spesies anggrek yang hilang dari kawasan ini.

Hal-hal tersebut diantaranya yang melatarbelakangi keinginan untuk dapat memulai melakukan konservasi ex-situ berbagai jenis anggrek spesies asli Jawa Barat. Sebagai tahap awal, anggrek-anggrek tersebut kami kumpulkan di areal yang menjadi zona pemanfaatan atau blok KW di Taman Buru Masigit Kareumbi. Selain mengumpulkan berbagai jenis spesies Jawa Barat, kami juga berusaha mengidentifikasi spesies lokal yang ada di sekitar kawasan. Seperti pada kesempatan penempelan pertama 15 jenis anggrek spesies di area hutan rasamala pada hari Rabu (15/04) pun ditemui 2 jenis anggrek lokal berukuran kecil. Kedunya belum dapat kami identifikasi.

Tercatat 15 jenis anggrek pohon yang telah kami tempelkan untuk melihat kecocokan tumbuh serta keamanan di lokasi, mengingat kami hanya menempelkannya begitu saja di pohon-pohon sekitar area wisma pada ketinggian 2 meter. Walaupun kami berusaha seakurat mungkin, tetap saja kami mengalami kesulitan mengidentifikasi jenis dan nama latin dari masing-masing spesies tersebut dan hanya mengandalkan internet serta informasi dari rekan untuk membantu identifikasi. Bila ada penulisan maupun identifikasi yang salah, mohon di koreksi.

  1. Anggrek Kalung (Coelogyne dayana)
  2. Anggrek Spesiosa (Coelogyne speciosa)
  3. Baca Lanjutannya…

Oleh: kareumbi | 7 April 2009

TBMK: Risalah Umum Kawasan (1995)

Ditulis ulang dari Laporan Identifikasi Permasalahan Pengelolaan Kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi Jawa Barat. Dokumen Publikasi BKSDA III Wilayah Jawa Barat. Tahun 1995.
Dokumen selengkapnya dapat diperoleh di Kantor Manajemen Pengelola Kawasan Konservasi Masigit Kareumbi.

A. Status dan Sejarah Pengelolaan

Komplek hutan Gunung Masigit-Kareumbi seluas 12.420,70 Ha semula dikelola oleh Dinas Kehutanan Daerah Tingkat I Jawa Barat. Selanjutnya terhitung mulai tahun 1976 ditetapkan sebagai Hutan Wisata dengan fungsi Taman Buru melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 297/Kpts/Um/5/1976 tanggal 15 Mei 1976.

Pada tahun 1980 dilakukan penataan batas luar oleh Direktorat Jenderal INTAG Departemen Kehutanan sepanjang 120 Km dan dipancang 2143 buah pal batas, dengan Berita Acara Tata Batas Beserta Peta lampirannya telah disyahkan oleh Menteri Kehutanan pada tanggal 2 Pebruari 1982.

Pada tanggal 27 Pebruari tahun 1988 dilaksanakan serah terima wewenang dan tanggungjawab pengelolaan kawasan hutan TB. Gunung Masigit-Kareumbi dari Direksi Perum Perhutani kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, yang disaksikan oleh Menteri Kehutanan di Bali, dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Perum Perhutani masih dapat mengelola hutan tanaman pinus pada areal Taman Buru Gunung Masigit-Kareumbi yang dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan petunjuk yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan/ Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam.
  2. Perum Perhutani akan membantu pembinaan, pengamanan serta pengadaan sarana fisik dalam rangka pembangunan Taman Buru Masigit-Kareumbi.

Pada tahun 1966 atas prakarsa Bapak Letjen. (Purn.) Ibrahim Adjie, telah dikembangbiakan jenis rusa sambar (Cervus unicolor), semula diintroduksikan sebanyak 25 ekor pada lahan berpagar seluas 4 Ha, setahun kemudian pagar dibuka dan rusa dilepas ke dalam hutan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: kareumbi | 7 April 2009

Daftar Fauna di Masigit Kareumbi

Fauna di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi

Sumber: Laporan Identifikasi Permasalahan Pengelolaan Kawasan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi Jawa Barat. Departemen Kehutanan. BKSDA III. Proyek Perencanaan Evaluasi Konservasi Kawasan dan Jenis Jawa Barat. 1995.
Catatan: Yang diberi tanda garis bawah merupakan alternatif berdasarkan cross check literatur yang lain.

I. Mamalia

  1. Rusa Jawa (Cervus timorensis) – belum terlihat lagi sejak tahun 1980-an
  2. Kijang (Muntiacus muntjak)
  3. Babi (Sus cropiatus?) – Sus vitatus
  4. Kera (Macaca fascicularis)
  5. Lutung (Presbytis pirrhus?) Trachypithecus auratus?
  6. Surili (Presbytis aygula?) Presbytis siamensis?, Presbytis comata?
  7. Meong Congkok (Felis bengalensis)
  8. Owa (Hylobates moloch)
  9. Musang (Priomodon linsang)
  10. Macan Tutul (Panthera tigris?) – Panthera pardus ssp. pardus

Baca Lanjutannya…

Oleh: kareumbi | 31 Maret 2009

Instalasi Pico Hidro di Masigit Kareumbi #4

Minggu, 29 Maret 2009

Seperti sudah dijadwalkan sebelumnya, hari ini adalah pengetesan unit turbin, generator dan controller.
Jam 10 pagi para pekerja sudah menyumbat lubang air di bendung Wisma agar air dapat masuk ke instalasi turbin. Dari sejak surut sampai air mencapai muka bendung kurang lebih memakan waktu 1.5 jam.

Menunggu air masuk melalui intake

Menunggu air masuk melalui intake

Sebelumnya, controller box yang berfungsi untuk mengatur dan memonitor arus serta tegangan output dari generator telah datang. Menurut rekan-rekan dari Asosiasi Hidro Bandung (AHB), perangkat ini merupakan elemen yang sangat penting dalam instalasi lsitrik turbin air.

Baca Lanjutannya…

Oleh: kareumbi | 28 Maret 2009

Daftar Flora di Masigit Kareumbi

Berikut adalah daftar flora di Masigit Kareumbi berdasarkan catatan BKSDA dan wawancara dengan Pak Ja’i Suryana, warga lokal yang aktif tergabung dalam tim manajemen.

Daftar dari buku BBKSDA:

  1. Rasamala (Altingia excelsa)
  2. Huru dapung (Actinodaphne glomerata)
  3. Beurying (Picus fistulosa)
  4. Jamuju (Podocarpus imbricatus)
  5. Huru (Machilus rimota)
  6. Puspa (Schima wallichi)
  7. Manglid (Magnolia blumei)*
  8. Mara (Macaranga rhizinoides)
  9. Saninten (Casianopsis argantea)
  10. Kitambaga (Eugenia cupre)
  11. Huru galitri (Machilus sp.)
  12. Kibugang (Clerodenaron calamitosum)
  13. Kuray (Trema orientalo)
  14. Pasang (Quercus sp.)
  15. Cangcaratan (Nauclea subdica)
  16. Hamirung (Ficus sp.)
  17. Jarak anak (Castanopsis acuminatissus)
  18. Kihiyang (Albazia procera)
  19. Kondang (Ficus fariegata)
  20. Caruy (
  21. Suren (Toona sureni)
  22. Baca Lanjutannya…

Oleh: kareumbi | 28 Maret 2009

info spesies: Pulus, si daun penyengat

Compiled from various sources by manglayang farm.

Pulus, si daun penyengat (dok. pribadi)

Pulus, si daun penyengat (dok. pribadi)

Pengenalan

Pulus (Laportea stimulans, syn. Dendrocnide stimulans syn. Urtica stimulans) adalah tanaman pohonan yang banyak ditemukan di daerah hutan hujan tropis dataran rendah di sebagian Indonesia. Sebarannya cukup luas termasuk di Masigit Kareumbi.

Di beberapa daerah, Pulus sering dipersamakan dengan Kemadu atau Kemaduh (Laportea sinuata), walaupun sejatinya Kemadu adalah spesies yang berbeda, namun demikian keduanya sama-sama memiliki bulu sengat (10).

Pulus (wood nettle, stinging nettle) termasuk dalam famili Urticaceae sehingga berkerabat dekat dengan tanaman Jelatang atau Jelutung (Girardina palmata). Di beberapa daerah Pulus juga sering disebut Jelatang. Walaupun secara fisik sebetulnya tanaman ini berbeda karena Jelatang memiliki daun berbentuk menjari seperti daun pepaya,berbentuk perdu dan memiliki duri di sekujur tubuhnya sampai ke batang.

Baca Lanjutannya…

Oleh: kareumbi | 26 Maret 2009

Instalasi Pico Hidro di Masigit Kareumbi #3

Skema Tipikal Hidroelektrik Dam

Skema Bendung Hidroelektrik (image courtesy usgs.gov)

Rabu, 25 Maret 2009

Pekerjaan fisik pembuatan intake, saluran alir dan bak turbin untuk pico hidro di Masigit Kareumbi sudah hampir selesai. Intake, saluran alir, bak turbin dan saluran buang sudah di plester, rapih sekali. Tiang untuk atap juga sudah di cor. Turbin model Open Flume OF-200ini adalah aseli made-in-bandung oleh Cihanjuang Inti Teknik. Turbin dengan kapasitas daya terbangkit 2kw tersebut sudah terbungkus plastik dan duduk manis di dalam bak. Pintu air dan sekat penyaring juga sudah ngepas di dalam celahnya. Wah mantap sekali.

Baca Lanjutannya…

Oleh: kareumbi | 20 Maret 2009

si Bujang mulai akrab..

Hampir satu bulan sejak rusa-rusa tutul itu masuk ke kandang.
Rusa tutul menurut pengamatan kami memang termasuk hewan yang mudah akrab dan relatif jinak. Namun itu bukan berarti dapat dengan mudah ditangkap. Jinak bisa jadi karena di tempat sebelumnya di Kertamanah, mereka sudah terbiasa melihat dan bergaul dengan manusia. Dan setelah hampir satu bulan, rusa-rusa ini mulai mau mendekat dan berinteraksi dengan pengurusnya, Mang Ana, bahkan dengan pengunjung yang relatif baru dikenal.

Tercatat 3 ekor yang sudah akrab ketika dipancing dengan makanan ubi jalar dan ketela pohon (sampeu). Tiga lainnya masih malu-malu untuk mendekat, namun sudah memperlihatkan ketertarikan.

si Bujang, rusa jantan berumur 2 tahun

si Bujang, rusa jantan berumur 2 tahun

Salah satu kunci untuk bisa berdekatan dan mengakrabkan diri dengan rusa atau hewan lain adalah menggunakan makanan. Bahasa sundanya ngalilindeuk. Dengan berakrab-akrab kami bisa mengamati rusa dari jarak dekat. Terlihat bahwa hampir semua rusa mengalami luka lecet di bagian pantat mereka. Mungkin ini akibat bergesekan dengan peti kayu ketika transporting. Luka seperti ini seharusnya tidak menjadi masalah besar, namun dapat menjadi berbahaya apabila mengalami infeksi. Dari pengamatan kemarin, terlihat bahwa satu ekor mengalami gejala bulu merinding. Mudah-mudahan tidak apa-apa..

Bukan saja berbagai jenis rumput dan dedaunan, rusa juga menyukai buah dan umbi-umbian. Kami perhatikan, rusa mampu memakan jenis pakan yang lebih variatif dibanding sapi. Mereka tidak saja merumput (grazing) tapi juga terkadang berusaha menggapai beberapa daun pohon dan buah pohon jambu yang ada di dalam kandang (browsing).  Beberapa jenis tumbuhan yang tidak disentuh sapi ternyata dimakan juga oleh rusa. Mungkin variasi makannya menyamai kambing.

Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori